Pura-Pura Rebahan
Aku sedikit khawatir juga, walau pelit melintir dan tukang ngumpat, dia tetap Papa dari dua putriku.
“Iya, sakit,” jawabnya sambil beralih posisi menjadi duduk dan menatapku sekilas, lalu memijat dahinya.
“Sakit apa kamu, Mas? Mau aku panggilin dokter atau gimana?” tanyaku pura-pura panik, biar dianggap istri perhatian.
“Nggak perlu, kalau sakit ... kita nggak perlu panggil dokter tapi mesti berobat ke pukesmas saja biar BPJS yang kita bayar tiap bulan itu ada gunanya.” Dia menatapku sinis.