Once then Forever
Terlebih lagi, Rio tahu bahwa semua orang termasuk teman sekolah dulu menjauhinya karena tahu pekerjaan kotor apa yang ia geluti.
"A--Aku butuh kerjaan, Ri," cicit Sera. Kehilangan muka. Rasanya seperti lumpur dari semua kotoran hewan sudah tertempel di wajah. Sera ingin mati saja, tapi tak bisa melakukannya.
Alis Rio menukik tajam. Pekerjaan? Ia berusaha tertawa, mengingatkan Sera tentang statusnya sebagai penyedia pekerjaan bagi perempuan-perempuan putus asa.