Cinta Ipar Duda
jawabku.
“Lho, Mas! Bukan itu maksudku. Maksudku, aku belum bisa merasakan kenyamanan seperti yang Mas rasakan. Semoga saja suatu saat bisa aku temukan,” sangahnya kemudian. Aku kembali terdiam. Itulah yang tidak aku suka dengan Venya. Hidupnya terlalu berbeda dengan ekspektasiku tentang wanita. Aku merindukan seorang wanita sederhana dengan kehidupan sederhana pula. Sementara, Venya yang terbiasa hidup di Jakarta, adalah sosialita yang terbiasa dengan gemerlapnya kehidupan malam. Bahkan, ia tidak menyukai alam damai yang menjadi tempat terindah bagiku. Venya selalu gelisah saat kubawa ke tempat-tempat adem begitu. Tapi, sudahlah, bukankah sebuah pernikahan akan lebih berwarna dengan adanya
인기 회차