Pertanyaan tentang keberadaan Tuhan dan penderitaan manusia selalu membuatku merenung. Bagaimana mungkin sosok yang Mahabaik membiarkan penderitaan terjadi? Aku ingat diskusi panjang dengan teman-teman kampus dulu, di mana kami mencoba memahami konsep free will versus divine intervention. Ada yang bilang penderitaan adalah ujian, tapi ketika melihat anak-anak yang kelaparan atau korban perang, penjelasan itu terasa sangat tidak memuaskan.
Di sisi lain, pertanyaan tentang akhirat juga seringkali membingungkan. Bagaimana tepatnya konsep surga dan neraka bekerja? Apakah adil jika seseorang yang berbuat baik seumur hidup tapi tidak percaya pada agama tertentu harus masuk neraka? Aku sendiri lebih cenderung pada pemikiran bahwa spiritualitas itu personal, dan mungkin kita tidak akan pernah mendapat jawaban yang benar-benar memuaskan selama masih hidup.