MERTUA IDAMAN
Pinggangku juga semakin nyeri.
“Mir, kamu kenapa, Mir?” Ibu mertua panik memperhatikanku yang meringis kesakitan. Beliau tak bisa mendekat karena sudah terikat. Jarak kami juga sedikit berjauhan.
“Perutku, Bu,” jawabku ketika rasa sakit dalam perut perlahan hilang. Namun, selang beberapa detik, kembali lagi. “Aaw!”
“Mira!” Bunda terisak bahkan tangisnya semakin menjadi.