Pernah dengar cerita tentang daun lontar? Itu yang dipakai nenek moyang kita buat nulis TTS zaman baheula. Daun dari pohon siwalan (atau disebut juga pohon lontar) ini punya tekstur khas yang bikin tinta nempel sempurna tanpa tembus. Aku malah penasaran gimana orang dulu bisa kreatif banget memanfaatin sumber daya alam. Mereka ngerajin daunnya sampai kering, dipotong persegi, terus ditulisi pakai pisau atau jarum. Bayangin aja, setiap lembar seperti kanvas mini yang harus diperhitungkan salah-satunya bakal kebuang. Prosesnya pasti makan waktu lama, tapi hasilnya tahan ratusan tahun—buktinya masih ada manuscript lontar tersimpan di museum!
Yang bikin aku makin kagum, daun ini bukan cuma buat tulisan doang. Di Bali, daun lontar dipake buat bahan banten (sesaji) atau bahkan kerajinan anyaman. Pohon siwalan sendiri serba guna: nira-nya bisa dijadikan gula, buahnya enak dimakan, batangnya kuat buat konstruksi. Jadi inget kata-kata orang tua dulu: alam itu supermarket gratisan asal kita tahu cara 'belanjanya'. Sayangnya sekarang daun lontar udah jarang dipake buat nulis, tergantikan sama kertas biasa. Padahal kalau dipikir-pikir, media tulis alami ini jauh lebih ramah lingkungan.