Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
POEDJAN

POEDJAN

Semuanya kering. Ia kembali berada di hutan, namun kali ini hutan itu dikelilingi dengan pohon cemara raksasa. Dedeng mendongak lantaran setitik air menganai bahunya. Sempat terpikir hujan, rupanya langit tak menaungi hutan ini, melainkan air rawa dengan tanaman yang mengapung di atas kepalanya. Sesekali ia melihat sesuatu berenang di hamparan air itu, namun ia tidak yakin apakah itu adalah seekor ikan atau bukan lantaran gerakannya sangat cepat. Sebagian pucuk pohon cemara tenggelam di hamparan air menyerupai langit itu. Dedeng tidak sempat berpikir tempat apa ini, atau sedang apa ia di sini. Di hadapannya ada sebuah jalan setapak, seperti sebuah jalan yang memang sengaja dibuah oleh para p
105.5K viewsOngoingAdded to Library 121 Times as minecraft end poem
Read
+Library
Poison (Racun untuk Maduku)

Poison (Racun untuk Maduku)

mataku terbelalak melihatnya. "Ya." "Aku butuh yang lebih banyak dari ini, Mbah. Ini kan hanya setetes," ucapku. "Mbah dan Nyimas hanya bisa memberimu setetes. Poison itu tidak akan langsung mematikan korban, tetapi akan membuatnya menderita perlahan-lahan sampai kau puas. Kamu jangan khawatir, nanti setiap madumu meneteskan air mata, botol bening itu akan terisi lagi oleh setetes poison. Dan kau bisa gunakan keesokan harinya. Begitu seterusnya, sampai kau puas mempermainkan penderitaan madumu," jelas Mbah.
107.8K viewsCompletedAdded to Library 311 Times as minecraft end poem
Read
+Library
KEMBALINYA SANG RATU

KEMBALINYA SANG RATU

"Dan puisi tak perlu makna. Cukup keindahan yang merobek dada." Anak-anak Buton berlarian di halaman. Mereka lahir dengan mata biru elektrik dan rambut yang tumbuh menjalar seperti akar. Salah seorang menunjuk langit tempat kapal alien kedua meledak—bunga api dari ledakan itu jatuh sebagai koin emas yang berbisik dalam bahasa Wolio kuno. Mereka tertawa riang, tanpa tahu bahwa keindahan yang mereka saksikan sebenarnya adalah pertanda kehancuran. La Ode Harimau tersenyum pahit, menatap ke langit yang kini dipenuhi asap dan debu. "Puisi kita adalah puisi kematian," bisiknya pelan, sebelum ia menghilang di balik kabut tebal yang menyelimuti istana. Sementara itu, anak-anak Buton terus berlarian,
3.3K viewsOngoingAdded to Library 100 Times as minecraft end poem
Read
+Library

Frequently Asked Questions

Ada sesuatu yang nostalgis tentang aroma buku pelajaran yang mulai memudar dan suara bel sekolah yang akan segera jadi kenangan. Puisi ini kutulis di hari terakhir SMP, ketika teman-teman saling menandatangani seragam:

'Kertas-kertas berhamburan di lorong kelas, Tertiup angin Juni yang nakal. Nama kita masih tertinggal di meja, Coretan kecil yang enggan dihapus waktu.

Sampai nanti, katamu sambil mengibarkan tangan, Seperti layang-layang putus yang masih berusaha terbang. Kita simpan potongan ini dalam plastik bening, Kenangan yang sengaja dibiarkan beku tapi tidak pernah benar-benar padam.'

Puisi ini terinspirasi dari kebiasaan kami menempel foto polaroid di dinding kelas, lalu melepasnya satu per satu di hari terakhir seperti ritual perpisahan kecil.

You may also like
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status