Kafan Hitam
Ramdani Abdulgambar sendirian di malam harirenungan sepertiga malammengayuh sepedaujung jalan
ucap seseorang dengan nada gemetar.
Euis tak langsung menoleh. Gadis itu mengatur napas dan berusaha agar tak berteriak. Setelah agak tenang, dengan memberanikan diri, ia menoleh ke belakang. Syukur dipanjatkan, yang ia lihat adalah manusia sepertinya, bukan makhluk berbungkus kafan hitam.
“Saya ikut, Is,” ulang wanita itu.
“Teh Nunung,” ucap Euis tak percaya. Ia sampai lupa kalau ada wanita hamil di antara warga yang mengungsi di saung Rojali. “Ikut saya?”
人気のチャプター