Kak, Aku Kedinginan
Begitu lama hingga wedang jahe di dalam termos berubah dari panas menjadi hangat, lalu dari hangat menjadi dingin.
Aku melayang di atas batu nisan, menunduk menatapnya.
Melihat rintik hujan singgah di bulu matanya, lalu luruh, singgah lagi, lalu luruh kembali.
Aku ingin mengatakan sesuatu.
Namun, aku sudah tidak memiliki mulut untuk berbicara.
Kemudian, angin kencang berembus. Sangat kencang.
Aku merasakan sesuatu menarik tubuhku.