Luka Seorang Istri
Maafkan aku Bu, bukan maksudku tak menghormatimu, tapi sekali saja, mengertilah kondisi anakmu.
“Mas, istighfar,” bisik Dilra, sembari menggenggam erat lenganku.
“Kenapa ibu diam? Mau menjelekkan istriku lagi? Mau bilang aku durhaka lagi, ayo!”
“Mas, sudah Mas,” sekarang Dilra malah memegangi dadaku, aku jadi mundur beberapa langkah menjauh dari Ibu yang masih membisu di tempatnya.
“Aku sama sekali gak keberatan, kalau Ibu mau tinggal di sini, silakan, tapi tolong jangan bikin masalah terus-terusan, aku mau hidup tenang.”