Pelatih Renang Idaman Para Sosialita
“Anya sama yang lain ngajak ketemu. Ngajak reuni kecil-kecilan. Gue tadinya bilang lo sibuk, tapi mereka maksa gue tanya dulu. Jadi… ya, gue tanya sekarang. Kalau lo nggak mau, nggak apa-apa. Tapi pikirin aja. Bagaimanapun, mereka itu teman lama lo… yang dulu selalu dukung lo.”
Aku terdiam, pandangan jatuh ke aspal. Ada rasa hangat sekaligus perih yang menyeruak. Jujur, aku rindu mereka. Suara tawa, candaan, dan dukungan mereka dulu masih terekam jelas di kepalaku.
Tapi semenjak kejadian lima tahun lalu—kejadian yang membuat kehidupanku terpuruk seperti ini—aku seperti nggak punya muka buat ketemu teman-teman SMAku itu.