Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Air Mata si Kupu-Kupu Malam

Air Mata si Kupu-Kupu Malam

Dengan cepat Laura membuka pintu mobil itu dan turun dari sana, berlari-lari kecil menuju rumah bordilnya. Bangunan bertingkat dua itu terlihat seperti rumah biasa dengan desain zaman dulu. Ditutupi pagar seng keliling yang tingginya sekitar enam centi meter. Hingga bangunan itu tampak depan tak terlalu terlihat jelas. Orang asing tidak akan mengira jika bangunan itu sebenarnya adalah rumah bordil.
101.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 31 kali sebagai puisi melayu pendek
Baca
+Pustaka
Jeruji Tanah Anarki

Jeruji Tanah Anarki

“Dedaunanku menari Iringi senandung nabastala Cerah berpendar Sebiru gagang pedangmu Lukaku merona Pancar penuh tawa Atas kabar bersambutnya rasa Dersik pembawa bahagia Katamu akulah sahmura Pendar mewangi helai mahkota Kataku akulah akara Pendar meluruh tiap amerta Sejuk dersik sarayu Simpul terukir kehadiratmu Indah irama jantung bertalu Tuan, nada ini untukmu.” Usai membaca puisi, Shaw mengusap tengkuk. “Aaa ... aku tidak begitu memahami puisinya.” “Tapi puisinya bagus. Kira-kira siapa penulis puisi itu?” Jari telunjuk Bailey mengetuk-ngetuk dagu, otaknya berpikir.
1010.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 338 kali sebagai puisi melayu pendek
Baca
+Pustaka
Suamiku Mantan Preman

Suamiku Mantan Preman

"Biar ku pendek Tapi nyaman dipeluk Langkah ku kecil Mau di gandeng terus. Biar ku pendek Tapi paling sayang kamu Walau diri miniatur Tapi cinta ku tak terukur." Ujar ku bernyanyi, dia pun menutup telinga. "Sudah sudah, suaramu seperti burung berbicara. Nyaring sekali." Ujar nya, aku pun melangkah cepat melebihi diri nya. Biar saja aku nganbek, salah siapa jadi orang terlalu jahil. Ku rasakan tak ada yang mengikuti ku, ku balikan badan ternyata dia menghilang. Kemanakah dia?
105.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 155 kali sebagai puisi melayu pendek
Baca
+Pustaka
Kelana

Kelana

Untuk segala lukamu Yang menjadi lukaku Sedihmu Yang adalah sedihku Badai dalam dirimu Yang mewarnai hidupku; Merah, ungu, jingga, kelabu Untuk segala kamu Yang telah kupilih dengan segenap kesadaranku Lana meremang membaca halaman pertama dari buku yang tengah ia baca. Kata-kata dalam puisi pendek itu membuat Lana merasakan sesuatu yang begitu sedih dan menyentuh, dan entah bagaimana membuatnya teringat Arga.
102.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 85 kali sebagai puisi melayu pendek
Baca
+Pustaka
Pendekar Bertongkat Menuju Puncak

Pendekar Bertongkat Menuju Puncak

*** Malamnya. Kali ini panda juga ikut dikurung sebagai hukuman karena telah menghabiskan 20 batang bambu panjang sebagai kudapannya. Wu Shi dan Xie yang sudah tidak diikat lagi, kini hanya duduk merenung sembari mendengarkan celotehan pak tua bernama Li Bai.
4.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 125 kali sebagai puisi melayu pendek
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1234567
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status