Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Taubat Sang Pendosa

Taubat Sang Pendosa

Atau hanyut bersama derasnya air yang mengalir di kaki pegunungan. Ponsel berbunyi lagi. Kali ini dentingnya tiada henti. Aku menimbang sejenak, lalu menjadi resah karena rasa penasaran yang memenuhi benak dan mulai membacanya. 'Rahman kamu sombong banget sekarang. Mentang-mentang udah sukses. Lupa ya sama aku.' Lupa? Aku memang tak mau mengingat apa pun lagi mengenai pekerjaan itu.
108.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 319 kali sebagai puisi pablo neruda
Baca
+Pustaka
Naluri Sang Pendosa

Naluri Sang Pendosa

Naluri Sang Pendosa 5 Semburat kekuningan menerpa wajah cantik Lela. Ia merasa sangat nyaman dan menikmati tidurnya. Luas, dan terasa sejuk tidak dingin apalagi panas. Lela membuka matanya perlahan. Pertama, yang ia lihat adalah jendela kaca yang terbuka. Menampilkan taman rerumputan dengan pot-pot bunga berjejeran.
104.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 142 kali sebagai puisi pablo neruda
Baca
+Pustaka
DIARY SKIZO

DIARY SKIZO

HUJAN SENDU Oleh: Pesona Senja Ada bilur serupa gores kenangan Pada tetes-tetes hujan sore Lagi dan lagi tetes menetes pada netra Bilur membilur dalam dada Mendung mengundang hujan Hujan merayu pendar cahaya jadi pelangi Tentu saja bisa! Tapi tak selalu, rintik hujan berbuah pelangi Harap tekat padamu juga padaku
106.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 242 kali sebagai puisi pablo neruda
Baca
+Pustaka
Warung Kopi Dunia Bawah

Warung Kopi Dunia Bawah

komentarnya. Karina hanya terkekeh. “Selamat datang di zaman absurd.” --- Suatu malam, Parto menyerahkan selembar puisi pada Dimas. > "Kopi tak berubah rasa, hanya cangkirnya yang berganti. Tapi rasa... tetap ingin pulang." --- WarKoDuBa malam itu penuh tawa, senyum, dan kehangatan yang tidak bisa dibeli. Parto mengangkat cangkirnya.
101.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 50 kali sebagai puisi pablo neruda
Baca
+Pustaka
Istri Galaknya Om CEO

Istri Galaknya Om CEO

Haidar chat kasih puisi: Wanitaku, Sayang! Rahim yang Kugali Kini Telah Tertali Aduan Nafsu Menganga Doa dan Cinta pun Berbunga Tubuh yang Kuraba Kini Hangatnya Mengaba Tersingkir dari Angin Membunuh Gemuruh Dingin Qobiltu yang Menjadi Janji Kini Telah Kuhempas dari Ruji Menjemput Pagi
105.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 149 kali sebagai puisi pablo neruda
Tampilkan Ulasan (45)
Baca
+Pustaka
Laras_7779
Nurilhuda, Syamsiddhuha, Badridduja, kembar tiganya Abi Ibu yang pengen aku bawa pulang. Kakak Uda pinter bikin salting, Abang Uha vibesnya bawa ketenangan, Adik Uja si paling nggemesin sedunia. Lengkap deh kalian ini
Arsyi An
Cinta banget baca novelnya Kak Azizah. Dewasanya Haidar menggemaskan, ia menasihati, tapi juga intropeksi. Part favoritku: Wanita itu rumah untuk lelakinya. Rumah akan rapi jika yang punya peduli, rumah akan nyaman jika yang punya beriman, rumah akan terang jika yang punya tak lupa kasih sayang
Baca Semua Ulasan
Sebelumnya
1
...
456789
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status