SANG MENANTU TERBUANG
Di ruang makan mewah yang dihiasi lampu kristal dan meja marmer putih, aroma roti panggang dan kopi Arabika seharusnya menciptakan suasana hangat, namun bagi Arya Dirgantara, sarapan selalu terasa seperti duduk di atas bara api, dikelilingi oleh sekelompok algojo.
Arya, berusia 25 tahun, duduk di sudut meja, mengenakan kemeja lusuh yang sedikit kebesaran—satu-satunya pakaian formal yang ia miliki.
Rambut hitamnya sedikit gondrong, menutupi sebagian wajah tirus yang menyimpan bekas-bekas kelelahan.
Di mata anggota keluarga Atmadja, ia adalah gambaran sempurna dari kata ‘sampah masyarakat’ yang entah bagaimana bisa menikahi permata mereka.
Hot Chapters