Sang Maharaja yang Terlupa
Besi dan perunggu yang dahulu dirancangkan untuk menjadi ujung tombak, mata panah, dan baju zirah rantai, kini berubah wujud menjadi mata cangkul yang kokoh, sabit untuk memanen padi, paku-paku besar untuk merangkai perahu nelayan, dan lonceng angin yang akan digantung di beranda rumah-rumah panggung.
Tumenggung Wiratha, mantan panglima yang tangannya dahulu hanya terbiasa memegang gagang tombak, kini berdiri di depan tungku dengan wajah yang berkilau oleh keringat dan jelaga. Ia memegang penjepit besi, membolak-balik bilah-bilah pedang pasukan timur yang telah dikumpulkan di alun-alun. Di sebelahnya, Bisma dan para pemuda desa mengayunkan palu besar secara bergantian, menghantam besi merah
الفصول الرائجة