OBSESI BARA
Sherin melirikkan matanya untuk menatap Barez.
“Gue tau lo membencinya..."
Barez melebarkan pupil matanya atas ucapan Sherin. Dia... dia mengetahuinya?
“Tapi, di setiap kehidupan... masing-masing dari kita mempunyai luka tersendiri. Setiap kita mempunyai sebuah penderitaan yang amat perih dan sakit. Tapi, untuk membenci, bukankah hanya akan menambah lukanya? Tidak ada yang benar-benar baik untuk membenci, untuk itu... ikhlaskan hati kamu untuk memaafkannya. Bukan sebagai saudara tapi sebagai seseorang yang juga memiliki sebuah penderitaan."