Lensa dan waktu kadang berkolaborasi, dan di situlah 'catch the moment' hidup.
Untukku, istilah itu lebih dari sekadar menekan tombol pada detik yang tepat — ini soal menangkap jiwa dari momen yang berjalan cepat. Aku sering mikir tentang foto-foto jalanan yang bikin merinding: ekspresi spontan, interaksi antarorang, cahaya yang pas—semua elemen itu nempel jadi satu dalam hitungan detik. Ketika foto berhasil 'mencatch' momen, ia bisa bercerita tanpa kata, menghadirkan suasana, dan bikin yang melihat ikut ngerasain apa yang aku lihat saat itu.
Teknik memang penting—kecepatan rana, aperture, fokus yang tajam—tapi mindset yang paling menentukan. Aku berusaha ada di tempat dengan perhatian penuh: baca gerak orang, antisipasi tindakan, dan kadang menunggu sabar sampai momen itu muncul. Di event keluarga, di jalan, atau di lapangan olahraga, sensasi menangkap momen datang dari kombinasi kesiapan teknis dan kemampuan menyatu dengan lingkungan.
Di luar teknik, aku juga mikir soal etika; beberapa momen harus dihormati, nggak selalu untuk dipajang. Ada kepuasan pribadi saat dapat foto yang jujur, bukan rekayasa—itu yang bikin aku terus berburu momen-momen kecil itu setiap kali pegang kamera.