Setiap kali ingat karya lama, aku kepo ingin tahu baris mana yang tertinggal paling dalam dari 'Ancika: Dia yang Bersamaku' (1995).
Kalau menimbang sumber-sumber yang masih bisa diakses—forum diskusi, thread nostalgia, dan beberapa blog lama—ternyata tidak ada satu kutipan resmi yang diakui universal. Banyak penggemar menyebut satu baris sederhana sebagai mewakili tema cerita: "Kau adalah alasan aku terus pulang." Baris ini sering muncul di quote card buatan penggemar dan caption nostalgia di media sosial.
Di sisi lain ada juga variasi yang lebih puitis seperti "Dalam tiap rindu, kusebut namamu sebagai doa." Perbedaan kata-kata ini biasanya karena orang mengingat inti emosinya, bukan teks literal. Aku sendiri lebih suka versi yang menyentuh hati itu karena ringkas dan mudah diulang saat orang butuh pengingat tentang kehangatan cinta yang bertahan lama.