ANAK TUKANG CUCI PIRING
Emmeryl hanya terdiam masih sembari menatap Imas lekat, walau cahaya tidak begitu terang, tapi kecantikkan Imas masih terpampang nyata.
“Sebenarnya, dulu aku ragu menerima pinanganmu, karena dulu aku juga menikah dengan orang yang berada serta berpendidikan. Tapi kenyataannya berujung perpisahan. Jujur, aku khawatir semua akan terulang, padahal aku hanya ingin sekali menjalani pernikahan dalam hidup ini.”
“Tapi … sepertinya nasib orang biasa sepertiku memang seperti ini. Selalu mudah ditinggalkan lelaki.” Imas menitikkan air mata, membuat Emmeryl merasa iba.