Ojol Menantu CEO
Aku menelan ludah payah.
“Dari mana kamu tahu.”
“Aku memergoki pembicaraan Shasha dan temannya. Dia merindukanmu.”
“Aku tidak mau berharap. Aku dan dia berteman lebih lama dari Devan, tentu saja dia merindukanku sebagai teman, bukan kekasih.” Akhirnya Rizki tidak lagi mengusik. Aku tidak tahu analisa Rizki benar atau tidak, yang pasti memang kebahagiaan ini terletak hanya pada senyumnya. Ah, kacau, kenapa jadi gambar dia? Sepertinya memang inspirasi games saat ini kisahku sendiri besamanya. Untuk dia, hasilnya mungkin juga akan aku berikan Sebagian untuk dia. Atau semua? Ya, untuk pengobatan Tante Rara yang sedang berbaring lemah di rumah sakit. Ini sepertinya akan menjadi puncak aku membant
Hot Chapters