ANESTESI RINDU
Wajah Vanya tampak memucat, keringat dingin membasahi dahinya sementara tangannya mencengkeram kepalanya sendiri dengan kuat.
"Tarik napas perlahan, Mba Vanya. Jangan dipaksakan untuk diingat!" seru Suster Dila dengan nada menenangkan, meski raut wajahnya tak bisa menyembunyikan kekhawatiran.
Namun, bayangan dalam mimpi itu seolah enggan pergi. Kucuran air, ruangan yang dingin, dan punggung laki-laki yang bergetar hebat itu terus berputar seperti kaset rusak di kepala Vanya. Rasa rindu itu begitu mencekat, seolah separuh jiwanya sedang menjerit meminta pertolongan di suatu tempat yang sangat jauh.
الفصول الرائجة