Menantu Terbuang Kini Hidup di Puncak Dunia
“Iya, iya… sama kayak film, ya? Kalau cuma naskah, itu kertas mati. Tapi waktu jadi gambar dan suara, dia hidup, bisa nyentuh orang.”
“Betul,” sahut Bumi pelan. “Sastra, film, musik—semuanya cara kita menafsirkan hidup. Beda medium, tapi sama-sama nyari makna.”
Panca tampak berpikir sejenak, lalu tersenyum getir. “Saya kadang heran, Kang. Orang bisa hafal jalan cerita film atau kutipan novel, tapi sering lupa ayat-ayat Tuhan. Apa jangan-jangan karena bahasa kitab suci terasa jauh dari keseharian?”
Hot Chapters