Kala Cinta Menyapa
[Lereng Gunung Bromo, Hindia Belanda, 1831]
.
“Lalu untuk apa kau menculikku? Membawaku begitu jauh ke tengah hutan?”
Diam. Senyap. Ells menunggu jawaban penculiknya. DIa benar-benar butuh jawaban itu untuk kemerdekaannya.
“Ayahmu membunuh kakekku.”
Getir suara Airlangga tetap membuat Ells cepat membantah.
“Tidak mungkin!” Ells merapikan duduknya. Tidak lagi bersandar, dia duduk tegak menarik kakinya mendekat, bersila.
Tatapan menyala penculiknya cukup menjawab.
“Papaku tidak pernah membunuh orang!” Ells sungguh tidak terima ayahnya disebut pembunuh. Ayah yang baik, ayah yang lembut, mana mungkin sekeji itu.
Namun tatapan Airlangga semakin tajam.
***
LANGIT dan bumi, terhalang
Hot Chapters