Di kampung tempat saya dibesarkan, cerita tentang tuyul bukan sekadar dongeng sebelum tidur. Setiap kali ada tetangga yang kehilangan uang atau beras secara misterius, bisik-bisik tentang 'anak kecil tak kasat mata' langsung menyebar. Nenek saya pernah bercerita dengan mata berbinar tentang pengalaman masa mudanya menyaksikan tuyul bekerja untuk dukun desa—bayi telanjang dengan kepala gundul yang bisa melahap setumpuk beras dalam sekejap.
Tapi yang lebih menarik adalah bagaimana legenda ini tetap hidup di era digital. Teman-teman saya yang bekerja di Jakarta masih sering membeli jimat anti-tuyul ketika pulang kampung. Rasanya mitos semacam ini bukan lagi soal percaya atau tidak, tapi lebih seperti warisan budaya yang melekat dalam DNA kolektif masyarakat kita. Justru ketika modernisasi hadir, cerita-cerita mistis seperti ini malah dapat makna baru sebagai penanda identitas lokal.