Menuju Matahari
Matanya menatap nanar pada pria sepuh di depannya, di seberang meja rendah ini.
“Tapi itu… itu tadi apa namanya? Perasaan, saya masih ada di tepi sungai, dekat denan Kademangan Gabus, tak jauh dari Kotaraja Pasir. Pas saya naik lereng dan melewati sesemakan, kenapa malah tembusnya ke Gunung Cakrabuana? Sungguh tidak masuk akal! Kata Kakang Wisnu, dari Pasir ke Cakrabuana perlu dua hari perjalanan.”
Panembahan Singgih tertawa pelan, dengan tangan mengambil nasi urap di piring, lalu memasukkannya ke mulut.