PEMBALASAN DEWA MAUT
bisiknya, suaranya nyaris hilang.
Dewa Maut berbalik, pergerakannya lambat, seperti sosok yang baru saja terbangun dari mimpi panjang.
Matanya, yang pernah memiliki kehangatan dan kepedihan, kini kosong, seperti dua lubang hitam yang hanya mencerminkan kekosongan.
“Aku tidak bisa menemukan Dipasena di sini, Anggrawati,” jawab Dewa Maut, suaranya tanpa emosi, datar seperti permukaan air yang beku. “Kamu terlambat.”
Hot Chapters