I am The Real King
"Ta, tapi kau..."
Aku tak kuasa lagi membantah saat ia menatapku pasrah. Semangat tak lagi ada, pancaran kedua matanya hilang. Namun ia tetap memaksakan tersenyum di akhir hidupnya tersebut. Ia menautkan jari kelingking kami, "janji ya, setelah ini, kamu harus pergi, harus! Dan tolong kabulkan permohonan terakhirku Dean."
"Baiklah, sampaikan salamku pada Sehan disana, Debby. Katakan bahwa aku... Sangat mencintainya. Sangat!!" Lagi-lagi air mata bibi lolos saat menyebut nama itu.