Rumah Tengah Hutan
Terlalu mahal harga yang harus aku bayar, jika harus melupakan hari ini.
“Kamu hebat juga, ya, kalau bikin puisi.” Pujinya, mungkin kepadaku.
“Haa? Hebat?”
“Iya, puisinya menyentuh sekali.”
“Ah, biasa saja.”
Siang itu, terasa siang terdingin di kota Surabaya. Alasannya kalian sudah mengerti, bahkan paham tanpa perlu aku menjelaskan ulang.
Senyum, adalah pengganti pelangi barang kali. Anehnya, pelangi yang seindah itu, tidak mau menampakkan diri sepanjang masa, merasa masih ada kekurangan untuknya.
Bab Populer