Neraka untuk Maduku
pintaku ke Mas Aris, pria itu mengangguk dan bergegas, tak berapa lama dia kembali dengan tanaman lidah buaya di tangannya.
Aku mendekati madu yang tak manis itu, dia menatapku sinis, dengan mata yang masih basah.
"Ini bagus buat luka bakar," ucapku, menyodorkan potongan tanaman lidah buaya itu.
"Nggak usah sok simpati," ucapnya kemudian, menepis tanganku.
"Mas, anter aku ke dokter, sakit …." Tangis Indah kembali terdengar.
Hot Chapters