Sayang, Aku Minta Maaf
Aku tidak berani mengakui bahwa barusan, hanya dengan membayangkan diriku dipaksa oleh Yoga, telah memicu gelombang kenikmatan yang luar biasa di dalam tubuhku.
"Kulihat kamu tidur seharian, aku kira kamu sakit."
"Ng … nggak, kamu lapar? Aku bisa buat mi untukmu."
"Aku sudah makan." Yoga menyerahkan segelas susu padaku. "Kelihatannya kamu belum cukup istirahat, habiskan ini lalu tidurlah lagi."
Aku mengangguk, meminum susu itu sampai habis.
Mungkin karena terlalu banyak menerima rangsangan, begitu aku berbaring di tempat tidur yang hangat dan wangi, rasa kantuk dengan cepat menyerang, kelopak mataku makin berat.