Ada nuansa hangat dalam tradisi Islam ketika mendoakan sesama, terutama untuk perempuan. Selain 'Syafakillah', aku sering menambahkan 'Wa afaaka' (semoga Allah menyembuhkanmu juga) sebagai balasan jika yang sakit membalas doa. Atau merangkai doa panjang seperti 'Allahumma rabban nasi, adzhibil ba’sa, isyfi antash shafi, la shifa’a illa shifa’uka'—doa Nabi untuk kesembuhan. Khusus perempuan, ada yang memilih 'Syafahakillah' (untukmu perempuan) agar lebih personal. Tapi sejujurnya, esensi tulus dalam doa lebih penting daripada diksi spesifik.
Yang kubaca dari 'Hisnul Muslim', doa setelah 'Syafakillah' bisa disesuaikan konteks. Misal menambahkan 'Wa baraka fi umrik' (semoga diberkahi umurmu) jika untuk orang tua, atau 'Wa zada fi husnik' (semoga menambah kecantikanmu) sebagai penyemangat. Tradisi di pesantren juga mengajarkan merangkai 'Syafakillah wa farraj Allahu kurbak' untuk menghilangkan kegelisahan.