Dekapan Hangat Sang Mantan
"Aku percaya."
Devan melepaskan genggamannya dengan enggan, lalu mengambil pulpen dari saku jasnya. "Tanda tangani sekarang. Semakin cepat selesai, semakin cepat kita bisa merayakannya."
Ghea mengambil pulpen itu, tangannya sedikit gemetar—bukan karena gugup, tapi karena momen ini terlalu besar untuk diproses. Ia menandatangani setiap halaman yang ditunjuk oleh Devan, satu per satu, dengan tulisan yang rapi dan tegas. Ketika ia mencapai halaman terakhir, ia berhenti sejenak, menatap namanya yang tercetak di atas garis tanda tangan.