Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Mari kembali ke Masa Lalu

Mari kembali ke Masa Lalu

imbuh Alex sembari menyipitkan mata ke tembok yang sudah tidak jauh lagi. Brukk Arindha terjatuh, tubuhnya sudah tidak kuat berdiri dan berlari, apalagi melompati tembok gedung belakang sekolahnya. “Lex, cepetan,” bujuk Jio yang melihat Alex tak jauh di depannya.
2.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 64 kali sebagai tembok maria
Baca
+Pustaka
TEMAN TAPI MESRA

TEMAN TAPI MESRA

Sementara Raga bergegas menuju area parkir untuk memarkirkan mobilnya. Mama tampak berjalan menyusuri lobby tanpa curiga sedikitpun jika dirinya sedang diikuti. Sasha berjalan agak jauh dari Mama dan sesekali bersembunyi di belakang pilar. Mama berbelok ke sebuah koridor dengan tulisan Spesialis Bedah. Entah mengapa firasat Sasha benar-benar buruk soal ini. Jantungnya berdebar keras memekakkan telinganya.
1016.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 339 kali sebagai tembok maria
Baca
+Pustaka
Bisikan Tengah Malam

Bisikan Tengah Malam

Tapi hari itu, dia merasa agak berbeda. Ruangan itu, tetap sama. Masih jadi ladang simpanan minyak tanah dengan banyak drum dan kran besarnya. Ada lemari yang kini menyimpan gaun tiruan dari Sesco, juga lukisan wanita telanjang yang bertuliskan Kembang Terawang. Lukisan-lukisan pornografi juga masih tergambar di dinding ruangan itu, setelah Maria merobek-robek kertas dinding yang mungkin dulu pernah ditutupi keluarga Van der Mosch.
3.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 73 kali sebagai tembok maria
Baca
+Pustaka
Mati Kembar

Mati Kembar

Aku bisa melihat rasa khawatir dan kekecewaan terhadap laki-laki iblis itu. "Mbak, apa sudah selesai?" tanya Nadia yang tiba-tiba masuk karena terlalu lama ia menunggu aku keluar dari kamar Nenek. "Iya, Nadia, Mbakmu sudah selesai. Sebaiknya kalian pulang, Sayang. Ini sudah larut, Nenek nggak ingin terjadi sesuatu sama kalian." ucap Nenek Idah sembari mendorong kami berdua ke luar dari kamar.
105.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 135 kali sebagai tembok maria
Baca
+Pustaka
Sang Kekasih Berambut Merah

Sang Kekasih Berambut Merah

Maria berkomentar pelan saat dia berjalan menaiki tangga dan melewati pintu masuk utama. Sarkon menepuk tangan sekali, dan cahaya hangat menyinari ruangan dan semua perabotannya—dua set sofa besar yang empuk, meja kaca persegi panjang yang rendah, beberapa pot tanaman, dan sebuah perapian. Maria merasakan selimut kehangatan menyelimuti dirinya dan menyadari bahwa api sudah menyala. Mereka berhasil membuat semuanya berjalan dengan baik dan tepat waktu untuk kedatangan dadakan itu. Maria bergerak melintasi lantai kayu dengan takjub.
1.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 49 kali sebagai tembok maria
Baca
+Pustaka
BEKERJA SEBAGAI ISTRI SIMPANAN

BEKERJA SEBAGAI ISTRI SIMPANAN

Ada satu lampu yang ketika aku nyalakan menghasilkan cahaya remang. Tidak ada bantal atau kamar mandi. Tidak ada pendingin ruangan, hanya berupa jendela kecil tanpa tirai. Aku berpikir, mungkin ini cara Tuan Edbert menghukum semua perempuan yang pernah mengkhianatinya. "Nona." Suara lembut itu menghentikan mata memindai sekeliling. Dia Maria. "Apa yang terjadi?" tanyanya sambil menutup pintu kamar yang usang.
1016.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 503 kali sebagai tembok maria
Baca
+Pustaka
Dikira Sopir Melarat, Ternyata Konglomerat

Dikira Sopir Melarat, Ternyata Konglomerat

Satu jam berikutnya, mereka pun tiba di rumah mewah yang dihadiahkan Tuan Dewantara untuk Arga dan juga Maria. Maria kembali dibuat tercengang, ia pikir hanya rumah kecil yang untuk ditinggali dua orang, tapi nyatanya tembok yang mengelilingi rumah itu setinggi 4 meter dan tampak sangat kokoh.
9.6167.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 4.4K kali sebagai tembok maria
Baca
+Pustaka
Queen of School

Queen of School

"P3K ada kan, Mar?" "Itu," tunjuk Maria pada sebuah box yang menempel di tembok. "Kalian ke ruang tengah saja, di sini kursinya sudah dibawa keluar." "Baiklah." Tara berjalan lebih dulu disusul oleh Deva yang mendesis menahan perih di bibir bawahnya. Darah segar masih merembes. "Mendekatlah," pinta Tara. Deva hanya menurut, pasrah saja.
3.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 106 kali sebagai tembok maria
Baca
+Pustaka
DI ATAS RANJANG MAFIA

DI ATAS RANJANG MAFIA

Mega Hospital malam hari. Suasana lobi masih cukup sibuk. Di depan lift, Maria berdiri dengan anggun, setidaknya menurut versinya sendiri. Ia memeluk vas keramik berisi pohon kaktus seolah itu adalah barang paling berharga di dunia. Tring! "Oh, sudah terbuka!" Maria melangkah masuk dengan wajah berseri-seri. Ia sudah membayangkan wajah terkejut Jose saat melihatnya tiba di Roma tanpa kabar.
1013.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 500 kali sebagai tembok maria
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status