Kesayangan Tuan Elian
"Cia menelponku tadi. Dia menangis, Adam. Dia hamil delapan bulan dan kamu membiarkannya sendirian di Singapura sementara kamu berkeliaran di Jakarta tanpa memberi tahu siapa pun? Apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan sampai harus bersembunyi dariku?"
Adam terdiam, ia melirik ke arah pintu yang sudah tertutup rapat, memastikan tidak ada telinga lain yang mendengar. "Itulah alasanku di sini, El. Aku menemukan sesuatu di pembukuan baru Papa Hendra. Sesuatu yang akan menghancurkanmu, tapi juga bisa menghancurkan Glacia jika aku salah melangkah."
"Itu terdengar menakutkan," canda Elian, meski matanya tetap waspada. Ia menuangkan dua gelas wiski tanpa es dan menyodorkannya pada Adam.