Waktu pertama kali aku denger cerita tentang 'kisah nabi Adam', yang langsung nempel di kepalaku bukan sekadar soal larangan atau surga, melainkan soal tanggung jawab dan menanggung akibat pilihan sendiri.
Aku sering mikir, untuk keluarga muda di Indonesia pesan paling nyata adalah belajar jujur pada diri sendiri dan pasangan. Dalam cerita itu ada momen di mana menyalahkan orang lain muncul begitu mudah — itu jadi pengingat supaya di rumah kita nggak langsung lempar kesalahan saat sesuatu salah. Ajarkan anak, dan ingatkan diri sendiri, bahwa mengakui salah itu bukan tanda lemah, tapi tanda kuat.
Selain itu, cerita itu juga tentang taubat dan peluang memperbaiki. Buat pasangan muda, itu berarti bangun budaya minta maaf dan saling memaafkan, serta mengubah perilaku, bukan cuma kata-kata. Rasanya lebih adem kalau rumah jadi tempat di mana semua boleh salah, tapi juga tempat di mana semua belajar memperbaiki. Aku selalu coba praktekkan itu setiap kali berantem kecil: tarik napas, akui kalau aku salah, dan jelaskan niat untuk berubah. Itu sederhana, tapi ampuh.