ISTRI KEDUA KU
"Harta yang kamu cari siang dan malam. Harta yang kamu tumpuk setiap hari. Harta yang selalu kamu banggakan. Itu memang membuat kita terpandang dan berbeda di hadapan manusia. Tapi, tidak membuat kita berbeda di hadapan Tuhan, Mas! Di hadapan Tuhan, hartamu itu tidak ada artinya. Di hadapan Tuhan, kita semua sama. Sama sama manusia biasa. Sama sama seorang pendosa yang harus mempertanggung jawabkan perbuatan kita selama di dunia!"
Fidelya menyentuh pipiku. Mengarahkan wajahku agar bertatapan dengannya. "Lihat aku, Mas! Apa kamu tidak bisa menyadari kedatangan ku hari ini karena apa, Mas?" tanyanya, sudut matanya mengembun.