Ada sesuatu yang mengganggu sekaligus memikat tentang cara Joker diperankan Heath Ledger di 'The Dark Knight'. Karakternya bukan sekadar penjahat biasa—ia seperti badai yang sengaja menghancurkan tatanan hanya untuk membuktikan chaos adalah hakikat manusia. Dialog-dialognya sarat dengan paradoks, seperti 'Madness is like gravity' atau 'Introduce a little anarchy', yang menunjukkan obsession-nya terhadap ketidakpastian. Kostumnya yang compang-camping dan riasan wajah yang tidak sempurna seolah simbol dari penolakan terhadap segala bentuk keteraturan.
Yang bikin ngeri justru filosofi di balik tindakannya: ia tidak punya backstory jelas, motif uang bukan prioritas, dan senjata utamanya adalah psikologi. Adegan magic trick dengan pisau di mulut korban atau rencana bom di dua feri memperlihatkan bagaimana ia memainmanipulasi rasa takut dan moral orang lain. Bagi Joker, dunia adalah laboratorium sosial tempat ia bereksperimen untuk membuktikan semua orang bisa jadi monster.