Kalimat 'come back to me' sering muncul di lagu-lagu dan dialog-drama, jadi aku sering berpikir soal bagaimana menerjemahkannya supaya tetap nendang tapi juga natural.
Secara harfiah, frasa itu terdiri dari 'come back' (kembali) dan 'to me' (kepadaku). Jadi terjemahan paling langsung memang 'kembalilah kepadaku' atau 'kembali kepadaku'. Namun bahasa Indonesia sehari-hari jarang pakai bentuk itu tanpa konteks; kalau ditujukan pada pasangan, terjemahan yang lebih mengena sering jadi 'kembalilah padaku' atau 'kembali padaku', atau lebih emosional lagi, 'kembalilah ke pelukanku' atau 'kembalilah bersamaku'.
Di sisi lain, frasa ini bisa juga bersifat figuratif. Misalnya kalau kamu bicara soal ingatan, 'It came back to me' bukan berarti seseorang kembali, melainkan sesuatu teringat lagi — terjemahannya jadi 'tiba-tiba teringat' atau 'ingatanku kembali'. Jadi sebagai penerjemah, aku biasanya menimbang apakah konteksnya fisik (orang pulang/kembali), emosional (kembali ke hubungan), atau mental (memori/ide kembali). Pilih kata yang paling natural di telinga pembaca dan sesuai suasana; seringkali pilihan yang lebih longgar tapi idiomatik terasa lebih hidup daripada terjemahan literal. Aku suka cari keseimbangan antara setia pada makna dan nyaman dibaca, dan itu biasanya berhasil bikin hasil terjemahannya kena sasaran.