Godaan Penghuni Kos Puteri
Tangannya memegang sebuah amplop cokelat ukuran sedang, jari-jarinya sesekali meremas pinggirannya tanpa sadar.
“Iya, Mas,” jawabnya santai. “Hari ini banyak jam kosong.”
Raga membawa cangkir kopi ke meja, lalu ikut duduk di seberang Wulan.
“Oh… gitu,” katanya singkat.
Saat cangkir diletakkan di meja, pandangan Raga tanpa sengaja jatuh ke amplop yang dipegang Wulan. Ada sesuatu di bagian tengah amplop itu—sebuah logo kecil yang terasa terlalu familiar. Raga menatapnya lebih lama dari yang seharusnya.