Bukan Bonekamu Lagi
Kasur sedikit turun saat ia duduk di tepi, dan aroma tubuhnya langsung memenuhi udara, wangi parfum kayu cedar yang sangat kukenal.
Tapi kali ini berbeda. Ada aroma mawar yang terlalu manis menempel di situ. Aroma Stella.
Rasa mual naik ke tenggorokanku.
Aku bisa merasakan tatapan panasnya di wajahku. Bibirnya menyentuh dahiku dengan lembut, sama seperti malam sialan itu. Sama seperti caranya memperlakukan siapa pun.
"Pagi, sayang." Suaranya serak, rendah, dan tetap terdengar berbahaya. Sialnya, tubuhku masih juga bereaksi.
الفصول الرائجة