LOGINRangga Adimarta, seorang CEO yang mewarisi perusahaan keluarga, tiba-tiba dijodohkan dengan Namira, gadis cantik dan berani tapi miskin. Namira menyetujui perjodohan itu untuk blas jasa karena keluarga Rangga telah membiayai kuliah adiknya untuk menjadi seorang dokter. Dalam pernikahan itu, Namira tidak bahagia karena raga Rangga bersamanya, tapi hatinya masih pada Zhara, istri pertamanya yang meninggal saat melahirkan anak mereka. Mampukah Namira merebut kembali hati Rangga?
View MoreNovember 16, 2010.
Sara sat down in her bedroom, staring at the mirror by her bedside and thinking as she prepared for school, a 16 year old orphan currently at a shelter in the neighborhood of New Orleans.
Right from age 6(six) when she lost her mum to cancer, and not knowing who her father was, Sara led a lonely life.
No family ever wanted to adopt her, cause they always saw her as the recluse, shy and quiet black kid always sitting at the shelter's auditorium whenever it was adoption day.
Not knowing the cause of her quietness, or why she wasn't as bubbly and lively as other kids in the shelter, Sara was all by herself, that even the matrons at the orphanage referred to her as a dull child.
Now grown up, Sara knew her time at the shelter was coming to an end, at age 18 it was required of all grown up kids to vacate the premises, leave the shelter and go fend for themselves.
Having no relatives she knew off, Sara knew that time was going to be a hard one for her.
Piling her curly brunnete mane into a heavy bun atop her head, Sara picked up her bag and set out for school.
Strolling through the streets in her worn out canvas, given to her by her only friend Ariel at the shelter, singing Miley Cyrus's "Adore you" in her head, she didn't know when she bumped into an oncoming bicycle by the roadside.
Coming to an abrupt halt, she looked up to see who had hit her, staring up she was met with the most beautiful blue eyes she had ever seen With a pair of sunglasses, daisy vintage brown long sleeved shirt and dark jeans, Sara came face to face with the most handsome boy she had ever come across.
Turning crimson red all over, her light caramel skin glowing, Sara was lost in the moment.
"Hey young girl, I'm so sorry for bumping into you with my bike, but next time watch where you going, okay love".
"Love?" She thought out loud oblivious to the fact that he could hear her.
"What did you just say?" he asked.
Sara straightened up, picked up her bag that had fallen off her hands, and brushed her skirt.
"Um sorry, twas a mistake, was thinking of something, well like you said next time, I'll put in mind I have to watch the road, Thanks for your concern".
With that Sara moved to go, she had not gone much longer than a step when he spoke up abruptly,
"Wait!'
********
Christian couldn't believe he had asked the cute little girl to wait, what was he even going to say, where would he start from, he was short of words, but ever since seeing the pretty black American girl he'd hit, a protective instinct to guard her and remove the frown currently brewing across her face arose within him.
Now face to face with her, he was at a loss for words.
"Hello, Yes? You asked me to wait, and I am."
Her pretty full pink rosebud lips puckered up, as the full attention of her large brown eyes were fixated on him.
"Yes, I'm, I'm Christian by the way" he said stammering while extending his hands for a handshake.
Crossing her elbows, Christian could see that she was not liking this conversation one bit.
He quickly brought down his hands and stood waiting for a response from her.
Clearing her throat and flashing a smile at him, Christian's heart immediately constricted.
Was this love at first sight 'he thought? How could a 19 year old guy like him fall in love with someone he had never met before, he doubted the scenario and shook his head twice to make sure he wasn't dreaming, looking up at her, he crossed his arms and waited as she spoke-
"Hmmmmmmmn, Christian right, well I am thinking you misunderstood me, considering you brought down your offered hands, am late for school and I am already becoming impatient, am Sara anyways, I think I can repay the formal introductory gesture, have a nice day love".
Winking at him, she arranged her bag neatly and efficiently and before he could reply, she was already on her heels running.
"God" he thought out loud as he looked at her long slim legs, skimping away, he was truly and sorely doomed.
Namira 36.Seminggu sudah Rangga terbaring di ranjang. Lelaki itu jatuh sakit setelah kejadian yang menimpanya dengan Namira.Hanna dirawat oleh asisten rumah tangga, tidurnya sama Keira karena tak tega dibiarkan Hanna tidur sendiri. Kegiatan Keira dan mama pun jadi lebih padat dan sibuk di kantor karena tak ada Rangga.Rangga sedang sakit.Bu Kinanti tetap memberitahu pada Namira bahwa suaminya sedang sakit.Semoga Mas Rangga lekas sembuh, Hanya itu balasan dari Namira, yang tentu membuat mertuanya semakin risau akan keadaan rumah tangga mereka. Namira bahkan tak mengeluh dia menginginkan apa, ia tak lagi banyak bercerita tentang apa yang dia rasakan dan inginkan.Baginya, semua yang terjadi cukup menjelaskan terkoyaknya hati sebagai seorang perempuan.Bukan hal mudah melalui rumah tangga yang dipimpin oleh lelaki yang belum selesai dengan masa lalunya. Belum lagi rasa tak berharga dirinya saat Rangga menyentuhnya, tapi menyebut nama perempuan lain.Namira bahkan tak menjenguk suam
Namira 35.“Kamu apain Namira?” tanya Bu Kinanti pada putranya yang baru pulang dengan keadaan basah kuyup. Tatapan sang mama seolah siap menerkam. Namun, suaranya tetap ditahan.Langkah Rangga begitu gontai dan lesu. Begitu ia masuk, ia disambut oleh pertanyaan mamanya.Beberapa waktu lalu, Bu Kinanti terjaga karena mendengar tangis Hanna yang cukup keras. Bayi itu seolah paham apa yang sedang terjadi antara mama dan papanya.Wanita paruh baya itu bangun, dan merasa aneh, karena tak biasanya Hanna menangis seperti itu. Apalagi kalau ada Namira di dalam kamar, pasti sudah diam sejak tadi.Tak enak hati, wanita itu keluar dari kamarnya dna mengecek ke kamar Rangga di tempat sekarang bayi itu tidur. Pintu kamar terbuka setengah, seperti tak ada penghuni. Tak biasanya pintu kamar mereka dibuka seperti itu. Lalu, Bu Kinanti masuk setelah beberapa kali mengetuk dan memanggil tapi tak ada sahutan.Betapa terkejutnya wanita itu saat melihat kamar yang kosong, hanya ada Hanna di ranjang keci
Namira 34.Namira mengikuti Rangga setelah ia minta tolong pada sopir yang sudah terjaga, karena memang waktunya sudah hampir subuh.“Ikutin, Tuan Rangga ya, Pak!” kata Namira saat ia naik mobil.Sopir keluarga itu hanya diam dan sejenak menatap Namira bingung. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada majikannya, tapi tetap merasa ada hal yang tidak beres. Namun, sebagai pekerja, ia tetap harus menuruti permintaan majikannya.Mobil melaju membelah jalanan yang nyatanya tak sesepi itu juga, meskipun tak padat seperti siang hari.Namira mulai menangis dan memalingkan wajahnya ke jendela. Hatinya sakit melihat Rangga yang terbangun langsung pergi setelah apa yang terjadi semalam. Seolah memang tak ada kesenangan sama sekali. Seolah memang ia tak ada harganya sama sekali.Pak sopir masih fokus mengendarai. Ia juga tak bertanya atau berbicara, karena keadaan yang terbaca sungguh tak memungkinkan.Sempat terlintas di benaknya ingin menghubungi Bu Kinanti untuk memberitahu bahwa Namira dan Rangg
Namira 33.Tujuh bulan sudah usia pernikahan Rangga dan Namira, tapi lelaki itu masih belum menunjukkan sikap yang seharusnya pada sang istri.Rangga masih abai dan kerap tak acuh pada Namira, bahkan saat Hanna sedang bersama Namira, yang diajak bicara hanya Hanna. Namira seolah dianggap tak ada di dekatnya.Lain lagi saat mereka bersama sang mama, Rangga bersikap layak pada Namira.Pun Namira sangat sering ditanyai Bu Kinanti tentang hubungan mereka, tapi gadis itu kerap kali berbohong dan mengatakan mereka baik-baik saja. Namira hanya ingin ia sendiri yang nantinya bisa mengetuk pintu hati Rangga untuk dibuka untuknya.Namira hanya terhibur dengan Hanna, atau saat ia bertanya pada adiknya.“Kuliahnya gimana?” tanya Namira.“Lancar, Kak. Bu Kinanti baru aja ngirim uang saku. Uang semester juga udah dilunasin,” kata Ziyad.Lega sudah pikiran Namira.Ia sendiri belum bisa bilang cinta, meski jujur setiap kali melihat Rangga ada debar yang berbeda dalam hatinya. Setiap kali Rangga meng
Namira 29.Bu Kinanti mulai mempersiapkan acara pernikahan Rangga dan Namira. Sampai ke fitting baju pun ia sendiri yang urus, karena sangat semangat untuk calon ibu sambung Hanna.Rangga sendiri masih terlihat malas tak bersemangat, begitu pun Namira, ketularan tidak bersemangat saat melihat waja
Namira 28.Namira menatap ponselnya, sudah terlambat lima menit dari seharusnya. Hari ini Azka mengajaknya bertemu, sudah lama mereka tak bertemu secara langsung.Namira tentu punya tanggung jawab untuk Hanna, ia tak bisa begitu saja pergi dan pulang seenaknya. Tadinya Hanna sedang tidur siang, ma
Namira 24.Ervan memasuki restoran dekat kantor yang biasa mereka kunjungi saat makan siang. Restoran milik orangtuanya, tapi yang mengelola adalah pamannya.Ia melihat Rangga juga di sana, sedang duduk menatap makanan yang ada di hadapannya. Mulutnya terlihat mengunyah, tapi sepertinya jiwanya se
Bab 23.“Hanna udah tidur?” tanya Bu Kinanti pada Namira yang sudah duduk di dekatnya.Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dan Hanna tentu sudah tertidur seperti biasanya.“Sudah, Bu.”Bu Kinanti tersenyum kemudian menatap Namira untuk memulai pembicaraan.“Saya tau kami pasti terkejut den
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.