Membayangkan Hermes selalu membuatku berpikir tentang pasar yang ramai.
Di mitologi Yunani, peran Hermes jauh melampaui sekadar kurir para dewa: dia dewa perjalanan, perbatasan, dan komunikasi. Semua hal itu sangat relevan dengan perdagangan, karena perdagangan bergantung pada pergerakan barang, orang, informasi, dan kesepakatan antarwilayah. Hermes jadi simbol orang yang menghubungkan titik-titik itu—mengantarkan kabar, membuka jalan, melindungi pelancong dan pedagang yang berpindah dari satu pasar ke pasar lain.
Selain fungsi praktis, ada juga unsur simbolis dan ritual: patung-patung 'herm' sering ditempatkan di perbatasan dan tempat umum seperti agora, menandai batas dan ruang transaksi. Lambang seperti tongkat bersayap atau sandalnya yang cepat melambangkan kelincahan negosiasi dan kecepatan transaksi. Di Romawi, Hermes disamakan dengan 'Mercury', yang makin mengukuhkan citranya sebagai pelindung perdagangan. Jadi, kaitan itu bukan kebetulan—ia tercipta karena fungsi mitologis Hermes sangat cocok dengan kebutuhan ekonomi dan sosial dalam dunia kuno, serta karena simbol-simbolnya mudah diadopsi oleh komunitas pedagang.