Exit
Sebelum masuk, aku menoleh sekilas ke belakang, dimana April yang sudah berjalan menuju pintu toilet.
Dari dalam bilik aku tidak bisa mendengar jelas apa yang sedang terjadi di luar sana. Hanya yang pasti, lawan bicara April adalah sosok laki-laki. Aku sama sekali tidak bisa berpikir jernih, untuk menerka-nerka siapa sekiranya yang sedang berbincang dengan April di luar. Mungkin pegawai kebersihan sekolah, karena tadi aku dan April membuat lantai kotor dengan air tea jus yang manis juga lengket. Mungkin juga juri laki-laki yang tadi memberikan tepuk tangan paling meriah untuk April, menyuarakan pujian berderet-deret kalimat, berniat membawa April menuju audisi ternama paling bergengsi. Mungk
Hot Chapters