Bias Cinta
Altaf akhirnya bisa menggeser obrolan yang cukup menyesakkan dadanya.
“Mati.”
Tatapan Altaf spontan melebar, saat jawaban dingin dan tidak pantas itu terdengar dari mulut Dinda. Kata “mati” barusan, tidak seharusnya dipadankan dengan wafatnya seseorang.
“Meninggal maksudnya, Mas,” ralat Dinda kembali tersenyum manis, “lidahku emang suka kepelesat kalau ngomong.”