Share

Bab 5

Author: Ipak Munthe
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-10 13:21:33

Karla keluar dari kamar mandi dengan tubuh masih terbalut handuk putih tebal. Rambutnya yang basah menjuntai di bahunya, beberapa tetes air masih menetes di kulitnya.

Arsen yang sejak tadi berdiri di dekat jendela menoleh.

Tatapannya tertuju pada istrinya.

Sudah hampir tiga bulan berlalu sejak kelahiran Cila.

Dan selama itu pula Arsen tidak pernah benar-benar mendapatkan kembali kedekatan sebagai seorang suami.

Ia sudah beberapa kali mencoba mendekati Karla.

Bahkan dengan sabar meminta Karla untuk meluangkan waktu baginya.

Namun setiap kali pula Karla selalu menolak.

Selalu ada alasan.

Lelah.

Tak ingin tubuhnya berubah.

Atau sekadar mengatakan ia sedang tidak ingin diganggu.

Arsen menarik napas pelan, mencoba menahan rasa kesal yang mulai muncul di dalam dadanya.

Sementara Karla tampak sama sekali tidak memikirkan hal itu. Ia berjalan santai menuju meja rias, lalu mulai mengeringkan rambutnya dengan handuk.

Seolah tidak menyadari tatapan Arsen yang masih tertuju padanya.

Atau mungkin…

ia memang tidak peduli.

“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Karla akhirnya tanpa menoleh.

Nada suaranya datar.

Arsen tidak langsung menjawab.

Beberapa detik ia hanya menatap punggung istrinya.

Lalu akhirnya berkata pelan,

“Kita bahkan tidak pernah bicara seperti awal pernikahan lagi.”

Karla berhenti mengeringkan rambutnya sesaat.

Namun kemudian ia kembali melanjutkannya.

“Kalau kamu ingin bicara,” katanya santai, “bicaralah.”

Nada itu terdengar begitu ringan.

Seolah bagi Karla… semua ini bukan masalah besar sama sekali.

Arsen akhirnya melangkah mendekat.

Beberapa langkah saja jarak di antara mereka.

Namun sebelum tangannya benar-benar sempat menyentuh Karla, wanita itu sudah lebih dulu menjauhkan dirinya.

Seolah sentuhan Arsen adalah sesuatu yang harus dihindari.

Arsen berhenti di tempatnya.

Ia menghembuskan napas kasar.

Untuk sesaat rahangnya mengeras.

Harga dirinya benar-benar terasa diinjak-injak sebagai seorang suami.

“Karla,” katanya dengan suara rendah, mencoba menahan emosi yang mulai naik di dadanya. “Aku membutuhkanmu. Kamu istriku.”

Karla menoleh sekilas, tetapi ekspresinya tetap datar.

“Aku nggak mau,” jawabnya singkat.

Arsen menatapnya tidak percaya.

“Kamu bahkan tidak mau aku sentuh?”

Karla menggeleng pelan.

“Aku takut hamil lagi,” katanya tanpa ragu. “Dan satu lagi… aku juga tidak mau memakai kontrasepsi apa pun.”

Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Itu juga bisa merusak tubuhku.”

Kalimat itu membuat Arsen terdiam.

Seolah semua alasan itu selalu kembali pada satu hal yang sama.

Tubuhnya.

Penampilannya.

Kariernya.

Sementara pernikahan mereka… seolah tidak lagi memiliki tempat di dalam pikirannya.

Karla berjalan menuju ruang ganti tanpa mengatakan apa pun lagi.

Beberapa menit kemudian pintu terbuka kembali.

Ia keluar dengan pakaian yang sudah rapi. Gaun yang dikenakannya cukup terbuka dan memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas, seperti pakaian yang biasa ia pakai untuk tampil di depan kamera.

Arsen yang masih berada di kamar langsung menoleh.

Tatapannya mengikuti setiap langkah Karla yang berjalan menuju pintu.

“Karla, sebentar saja,” katanya.

Arsen bergerak cepat mendekatinya. Tangannya meraih lengan wanita itu, lalu tanpa menunggu jawaban ia mendekat dan mengecup tengkuk Karla.

Namun reaksi Karla jauh dari yang ia harapkan.

Wanita itu langsung mendorongnya menjauh.

Arsen sedikit terhuyung satu langkah ke belakang.

Karla merapikan kembali pakaiannya dengan wajah kesal, seolah sentuhan Arsen barusan adalah sesuatu yang sangat mengganggunya.

“Apasih?” katanya sinis.

Ia menatap Arsen dengan tatapan dingin.

“Kamu punya tangan, kan?”

Arsen terdiam.

Karla mendengus pelan sebelum melanjutkan dengan nada meremehkan.

“Pakai saja tanganmu.”

Setelah itu ia berbalik dan melangkah pergi keluar kamar, meninggalkan Arsen yang masih berdiri di tempatnya.

Untuk beberapa detik, ruangan itu kembali sunyi.

Namun kali ini bukan hanya sunyi.

Melainkan juga penuh dengan rasa terhina yang perlahan memenuhi dada Arsen.

Arsen meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja.

Tanpa berpikir panjang, ia melemparkannya keras ke arah cermin.

Prang!

Cermin besar itu retak seketika.

Cermin yang sama… tempat Karla selalu berdiri setiap hari.

Tempat ia merias wajahnya dengan begitu sempurna.

Namun Arsen tahu satu hal yang menyakitkan.

Semua itu bukan untuknya.

Bukan untuk suaminya sendiri.

Melainkan untuk orang lain.

Untuk orang-orang di luar sana.

Agar mereka menatapnya dengan kagum.

Agar mereka memuji kecantikannya.

Sementara Arsen… bahkan tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari dunia yang selalu Karla banggakan itu.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Elsa muthia Handini
yg ini istrinya mementingkan karir
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   TAMAT

    Beberapa hari kemudian, Vivian akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Begitu tiba di rumah, suasana langsung berubah total. Rumah yang sebelumnya sudah ramai oleh tingkah Cila kini menjadi jauh lebih hidup. "Oeee... oeee..." Tangisan salah satu bayi terdengar dari lantai atas. Belum sempat suara itu reda, bayi satunya ikut menangis. "Oeee... oeee..." "Astaga," gumam Arsen sambil mengusap wajahnya. Baru saja ia berhasil menenangkan anak pertama, kini anak kedua ikut menangis. Dari ruang keluarga terdengar tawa Melati yang sedang menggendong salah satu cucunya. Sedangkan Ferdy sibuk mondar-mandir membawa botol susu seperti seorang ajudan pribadi. Rumah itu benar-benar dipenuhi suara bayi. Namun di tengah semua keramaian itu, ada satu orang yang mulai menunjukkan perubahan. Cila. Gadis kecil itu kini terlihat lebih lengket daripada biasanya kepada Vivian. Setiap kali Vivian menggendong salah satu bayi, Cila akan segera datang dan memeluk kaki atau le

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 172

    "Ibu," seru Cila yang digendong babysitter nya. Vivian pun menoleh lalu tersenyum, bocah berusia tiga tahun itu terlihat semakin lucu dan menggemaskan. Vivian langsung mengangkat tangannya, "Anak Ibu," Katanya. Lalu Babysitter langsung memberikan pada Vivian. Vivian langsung memeluknya erat, "Aku nggak mau tambah anak lagi, Mas. Aku sudah cukup punya tiga anak, aku nggak mau Cila kurang kasih sayang karena kita terlalu punya banyak anak," Ucap Vivian. Arsen yang sedang berdiri di samping ranjang langsung menoleh ke arah Vivian. Di pelukan Vivian, Cila tampak manja. Kedua tangan kecilnya melingkar di leher sang ibu, seolah takut kehilangan perhatian setelah kehadiran dua adik barunya. Vivian mengecup pipi putrinya berkali-kali. "Aku nggak mau tambah anak lagi, Mas. Aku sudah cukup punya tiga anak. Aku nggak mau Cila kurang kasih sayang karena kita terlalu punya banyak anak," ucap Vivian dengan tulus. Ya, ada rasa takut yang terlintas di hatinya. Ia takut tidak bisa mencint

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 171

    Beberapa bulan kemudian. "Oeee... oeee..." Suara tangisan bayi memenuhi ruang bersalin rumah sakit, memecah ketegangan yang sejak tadi menyelimuti suasana. Vivian akhirnya melahirkan bayi kembar. Keduanya laki-laki, sehat, dan sangat menggemaskan. Tangisan mereka terdengar nyaring seolah mengumumkan kedatangan mereka ke dunia. Rasa bahagia yang dirasakan Arsen sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Dadanya terasa penuh oleh haru, syukur, dan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Selama hidupnya, ia sudah melewati banyak hal—kehilangan, penyesalan, dan berbagai ujian yang nyaris merenggut kebahagiaannya. Namun di detik ini, saat mendengar tangisan kedua putranya, semua rasa lelah itu seolah terbayar lunas. Arsen berdiri di samping ranjang Vivian dengan mata yang memerah. Tangannya menggenggam erat tangan sang istri. "Vivian..." suaranya bergetar. Vivian yang masih lemah menoleh sambil tersenyum kecil. "Kita punya dua anak laki-laki, Mas," bisiknya. A

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 170

    Ponsel Nindy yang berada di tangan Sandy berdering. Sandy melirik layar ponsel itu dan tersenyum tipis saat melihat nama yang tertera. Nino. Tanpa ragu, ia langsung menerima panggilan tersebut. "Nindy! Sekarang aku bangkrut! Apa kamu sengaja menghancurkan aku? Apa kamu meminta Arsen untuk menghancurkan aku?!" bentak Nino begitu panggilan tersambung. "Aku yang menghancurkanmu." Sandy menyandarkan tubuhnya dengan santai. Di seberang sana, Nino terdiam sesaat. "Kau?!" geramnya ketika mengenali suara Sandy. "Sandy! Beraninya kau lancang!" Sandy terkekeh pelan. "Lancang?" ulangnya. "Aku cuma memastikan seseorang menerima akibat dari perbuatannya." "Jangan gila! Mana mungkin kau bisa menikahi majikanmu? Kau pasti mengincar hartanya!" Senyum di wajah Sandy perlahan menghilang. "Aku tidak seperti dirimu, Nino." Suara Sandy terdengar tenang, namun justru itulah yang membuatnya terasa lebih mengintimidasi. "Kau mendekati Nindy karena apa yang dimilikinya. Sedangkan

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 169

    Dreettt. Ponsel Vivian bergetar, membuatnya langsung menunduk dan melihat layar. Ia segera mengangkat panggilan itu. "Halo," jawab Vivian. "Vivian, aku Karla... aku ingin bicara. Temui aku di Restoran Bintang sekarang ya. Aku tunggu di sana, terima kasih," suara Karla terdengar dari seberang. "Eh—Karla?" Vivian sedikit terkejut. Namun panggilan itu sudah terputus. Vivian pun terpaku menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Alisnya mengernyit, bingung. Kenapa Karla tiba-tiba mengajaknya bertemu? Ia menggigit bibir, ragu. Biasanya Karla selalu berbicara tajam padanya, tapi ini berbeda. Nada suaranya tadi juga terasa berbeda—lebih tenang, tapi justru membuat Vivian merasa tidak nyaman. Vivian menoleh ke arah koridor tempat Nindy dan Sandy pergi tadi. "Harusnya aku gimana, ya..." gumamnya pelan. Ia kembali menatap ponselnya, masih ragu antara pergi atau mengabaikannya. Tapi ada sesuatu di hatinya yang berkata bahwa ini bukan pertemuan biasa. *** Vivian tib

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 168

    Nindy pun segera menuju kantor Arsen. Ia bahkan langsung melangkah masuk tanpa menunggu izin. Begitu pintu terbuka, ia melihat Arsen tengah duduk di kursi kebesarannya. Pria itu langsung menghentikan pekerjaannya saat menyadari kehadiran Nindy, lalu mengalihkan seluruh perhatiannya pada sang adik. "Ada apa?" tanya Arsen. "Sebenarnya Sandy itu seperti apa?" tanya Nindy langsung. Arsen mengernyitkan kening, sedikit bingung dengan pertanyaan tiba-tiba itu. "Seperti apa?" ulang Arsen. "Arsen, dia itu orang seperti apa? Kenapa dia berubah?" tanya Nindy akhirnya. Arsen tersenyum miring mendengar pertanyaan kakaknya itu. "Kamu yang mau menikah dengannya, kenapa malah bertanya padaku?" tanya Arsen balik. "Tapi..." Nindy terdiam. Ucapan Arsen memang benar. Seharusnya dia yang lebih mengenal Sandy, bukan malah mencari jawaban dari orang lain. "Dia berubah, atau sebenarnya kamu yang tidak pernah benar-benar mengenalnya?" kata Arsen setengah mengejek. Nindy langsung terdia

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 93

    Nona Vivian dan Tuan Rayan tidur bersama, Bos. Bahkan ibu Fatimah menyarankan Nona Vivian dan Pak Rayan berbulan madu. Pagi tadi Nona Vivian pergi, Tuan. Sedangkan Pak Rayan masih tidur. Kata itu yang terus terngiang-ngiang di kepalanya, entah bagaimana cara untuk melupakannya. Asap r o k ok sa

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 92

    "Vivian, akhirnya kamu datang juga. Ibu sangat rindu sekali," Bu Fatimah langsung memeluknya ketika ia baru saja tiba. "Ibu sakit?" tanya Vivian. "Biasalah, sudah tua begini jangankan kerja. Rebahan saja kadang badan ada aja yang sakit," jawab Bu Fatimah terasa hangat. Vivian pun tersenyum, i

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 82

    "Apa maksudmu mengirimkan surat cerai ini?!" Suara Karla menggema memenuhi ruangan. Tangannya mencengkeram map putih yang sejak tadi dibawanya erat-erat sampai sedikit bergetar. Wajahnya memerah menahan emosi, sementara matanya menatap Arsen penuh kemarahan dan rasa tidak percaya. "Kau pikir pe

  • Air Susuku, Harga Kebangkrutan Suamiku   Bab 62

    Rapat berakhir, Arsen keluar bersama asistennya. Kursi mulai bergeser, laptop ditutup, dan percakapan kecil kembali terdengar. Suasana memang kembali normal, tetapi ketegangan masih terasa. Vivian berdiri dengan tenang dan merapikan tasnya tanpa terburu-buru. Beberapa orang melirik ke arahnya

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status