ANMELDENPintu depan terbuka.
Seorang wanita melangkah masuk dengan langkah percaya diri. Namun langkahnya langsung terhenti begitu matanya menangkap sosok seorang wanita asing yang berdiri di ruang tamu. Alisnya langsung berkerut. Pandangan tajam itu bergerak dari kepala hingga kaki Vivian, seolah sedang menilai siapa sebenarnya wanita yang berada di rumahnya. Tidak jauh dari sana, Arsen masih berdiri dengan tenang. Wanita itu menoleh padanya dengan ekspresi penuh tanya. “Arsen…,” katanya pelan, namun nada suaranya jelas menunjukkan ketidaknyamanan. Matanya kembali melirik ke arah Vivian. “Dia siapa?” “Namanya Vivian,” kata Arsen akhirnya, memecah keheningan yang sejak tadi terasa menekan. “Dia istri Rayan, sahabatku. Dia di sini… untuk menjadi ibu susu bagi putri kita.” Karla terdiam sesaat. Namun hanya sekejap. Detik berikutnya, senyum langsung terbit di wajahnya. Matanya bahkan terlihat berbinar, seolah baru saja mendengar kabar yang sangat ia tunggu. Sementara itu, Vivian justru membeku di tempatnya. Putri… kita. Kata-kata itu berputar pelan di kepalanya. Baru saat itu Vivian benar-benar menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak sempat ia pikirkan. Bayi itu… masih memiliki seorang ibu. Seorang ibu yang berdiri tepat di hadapannya sekarang. Perasaan aneh langsung merayap di dada Vivian. Ia menundukkan pandangannya, merasa semakin tidak pantas berada di sana. “Bagus,” kata Karla dengan nada puas. “Akhirnya kamu setuju dengan usulku.” Ia menoleh pada Arsen dengan ekspresi lega, seolah sebuah masalah besar akhirnya selesai. Namun bagi Vivian… kalimat itu justru terasa seperti pisau kecil yang kembali menggores hatinya. “Kerja yang benar. Aku akan memberikan tips,” ucap Karla ringan, seolah sedang berbicara kepada seorang pelayan. Setelah itu ia langsung melenggang masuk ke dalam rumah tanpa menunggu jawaban. Sepasang sepatu hak tingginya beradu pelan dengan lantai marmer, suaranya perlahan menjauh. Vivian berdiri kaku di tempatnya. Kalimat itu masih terngiang di telinganya. Kerja. Satu kata yang terasa begitu menusuk. Jadi bagi wanita itu… dirinya memang tidak lebih dari seseorang yang dipekerjakan. Arsen masih berdiri di sana. Tatapannya sempat jatuh pada wajah Vivian yang terlihat semakin pucat. Beberapa detik ia memandang wanita itu, seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun pada akhirnya ia tidak berkata apa pun. Arsen hanya menarik napas pelan. Lalu ia berbalik dan menyusul istrinya masuk ke dalam rumah. * Karla langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang king size di kamar mereka. Kasur empuk itu sedikit bergoyang saat tubuhnya mendarat. Ia merentangkan kedua tangannya, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku setelah seharian berada di luar. Arsen berdiri tidak jauh dari ranjang, menatap istrinya dengan tatapan tajam. “Seharusnya kamu yang memberikan ASI untuk Cila,” katanya akhirnya, suaranya terdengar tertahan namun penuh tekanan. “Tapi apa? Bahkan tidak ada rasa bersalah yang terlihat di wajahmu sama sekali.” Karla memutar matanya ke arah langit-langit kamar, seolah sudah terlalu lelah untuk membahas topik itu lagi. “Astaga, Arsen…” katanya panjang, nada suaranya terdengar jenuh. “Aku kira masalah ini sudah selesai setelah kamu menemukan wanita tadi.” Ia menoleh sedikit ke arah Arsen. “Sekarang bayi itu punya ibu susu. Jadi apa lagi yang perlu dipermasalahkan?” “Tapi itu tugasmu sebagai seorang ibu!” Suara Arsen terdengar lebih keras dari sebelumnya. Karla yang semula berbaring langsung bangkit dari ranjang. Ia berdiri dan menatap Arsen dengan wajah serius. “Arsen,” katanya tegas, “aku sudah melahirkan anak seperti yang kamu minta.” Arsen terdiam sejenak. “Kamu tahu sejak awal aku tidak siap punya anak. Tapi kamu terus mendesakku.” Karla menghela napas panjang, wajahnya mulai terlihat kesal. “Hamil itu melelahkan, Arsen. Sembilan bulan merasa seperti terkurung di dalam tubuh sendiri. Sakit, lelah… kamu mana tahu rasanya? Kamu cuma bisa menuntut punya anak!” Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Sekarang bahkan soal ASI juga harus aku yang melakukannya? Susu formula itu banyak! Dan kalau bayi itu tidak bisa minum susu formula, perempuan tadi bisa memberikan ASI.” Nada suaranya semakin tinggi. “Aku tidak mau jadi ibu rumah tangga seperti yang kamu inginkan. Aku punya karier! Aku ini model terkenal, Arsen. Di mana-mana gambarku ada.” Tangannya bergerak menunjuk tubuhnya sendiri. “Tubuhku ini jadi sorotan. Semua orang melihatnya. Lihat aku sekarang…” Karla menatap tubuhnya sendiri dengan ekspresi tidak puas. “Aku sudah gemuk. Berlemak. Siapa yang akan melirik aku kalau tubuhku rusak?” Arsen hanya berdiri diam. Ia sudah terlalu sering mendengar alasan-alasan seperti itu. Bagi Arsen, semua itu terasa tidak masuk akal. Namun itulah kenyataannya. Bahkan ide untuk mencari ibu susu bagi putri mereka… justru datang dari Karla sendiri. Karla akhirnya menghela napas panjang, seolah sudah benar-benar lelah dengan pembicaraan itu. “Sekarang wanita tadi sudah ada,” katanya dengan nada tegas. Ia menatap Arsen lurus-lurus. “Jadi aku tidak mau lagi topik ini dibahas.” Karla melangkah menuju kamar mandi. Arsen hanya bisa diam sambil duduk di sofa dengan pikiran kacau dan istrinya semakin hari semakin tidak karuan. Bahkan tubuhnya jauh lebih penting daripada putrinya sendiri.Kepala Arsen terasa seperti ingin meledak. Ia baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah tegang. Rambutnya masih sedikit basah karena air yang tadi ia guyurkan ke wajahnya berkali-kali. Hampir tiga puluh menit ia mengurung diri di sana. Mencoba menenangkan pikirannya. Mencoba mengusir rasa frustasi yang sejak tadi menyesakkan dadanya. Namun tetap saja tidak berhasil. Bukannya mereda, perasaan itu justru semakin membuatnya gelisah. Arsen mengusap wajahnya kasar. Dadanya naik turun menahan emosi yang sulit ia kendalikan. Untuk menenangkan kepalanya yang terasa hampir pecah, Arsen memutuskan pergi melihat putrinya. Ia berjalan menuju kamar Cila. Biasanya setiap malam ia datang ke sana untuk menenangkan diri. Mendengar napas kecil putrinya, atau bahkan tangisannya yang sering membuat rumah ini terasa hidup. Namun malam ini berbeda. Aneh. Tidak ada tangisan. Rumah justru terasa lebih tenang dari biasanya. Arsen mengerutkan kening, rasa penasaran muncul d
Karla keluar dari kamar mandi dengan tubuh masih terbalut handuk putih tebal. Rambutnya yang basah menjuntai di bahunya, beberapa tetes air masih menetes di kulitnya. Arsen yang sejak tadi berdiri di dekat jendela menoleh. Tatapannya tertuju pada istrinya. Sudah hampir tiga bulan berlalu sejak kelahiran Cila. Dan selama itu pula Arsen tidak pernah benar-benar mendapatkan kembali kedekatan sebagai seorang suami. Ia sudah beberapa kali mencoba mendekati Karla. Bahkan dengan sabar meminta Karla untuk meluangkan waktu baginya. Namun setiap kali pula Karla selalu menolak. Selalu ada alasan. Lelah. Tak ingin tubuhnya berubah. Atau sekadar mengatakan ia sedang tidak ingin diganggu. Arsen menarik napas pelan, mencoba menahan rasa kesal yang mulai muncul di dalam dadanya. Sementara Karla tampak sama sekali tidak memikirkan hal itu. Ia berjalan santai menuju meja rias, lalu mulai mengeringkan rambutnya dengan handuk. Seolah tidak menyadari tatapan Arsen yang masih t
Pintu depan terbuka. Seorang wanita melangkah masuk dengan langkah percaya diri. Namun langkahnya langsung terhenti begitu matanya menangkap sosok seorang wanita asing yang berdiri di ruang tamu. Alisnya langsung berkerut. Pandangan tajam itu bergerak dari kepala hingga kaki Vivian, seolah sedang menilai siapa sebenarnya wanita yang berada di rumahnya. Tidak jauh dari sana, Arsen masih berdiri dengan tenang. Wanita itu menoleh padanya dengan ekspresi penuh tanya. “Arsen…,” katanya pelan, namun nada suaranya jelas menunjukkan ketidaknyamanan. Matanya kembali melirik ke arah Vivian. “Dia siapa?” “Namanya Vivian,” kata Arsen akhirnya, memecah keheningan yang sejak tadi terasa menekan. “Dia istri Rayan, sahabatku. Dia di sini… untuk menjadi ibu susu bagi putri kita.” Karla terdiam sesaat. Namun hanya sekejap. Detik berikutnya, senyum langsung terbit di wajahnya. Matanya bahkan terlihat berbinar, seolah baru saja mendengar kabar yang sangat ia tunggu. Sementara
Arsen masih menatap putrinya yang tertidur di pelukan Vivian. Wajah kecil itu terlihat begitu damai, seolah tidak pernah menangis berjam-jam sebelumnya. Rasa lega jelas terlihat di mata pria itu. Namun ketenangan di ruangan itu kembali pecah ketika Rayan berbicara lagi. “Kalau begitu, ada satu hal lagi.” Arsen mengalihkan pandangannya. “Apa?” Rayan melirik sekilas ke arah Vivian sebelum kembali menatap sahabatnya. “Bayi tidak mungkin hanya menyusu sekali sehari.” Vivian langsung menegang. Ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini.Tapi apakah mungkin Rayan sendiri yang mengatakan hal itu? “Iya, itu benar. Jadi?” tanya Arsen. Rayan menjawab dengan santai, seolah ini bukan hal besar. “Vivian akan tinggal di sini sementara.” Kalimat itu membuat Vivian langsung mendongak. “Apa?” Suara itu keluar sebelum ia sempat menahannya. Rayan menatapnya dingin. “Ini untuk bayi itu.” Vivian menggenggam selimut bayi dengan tangan gemetar. “Kamu tidak p
Perjalanan itu terasa terlalu panjang. Vivian duduk di kursi penumpang mobil dengan tubuh kaku. Tangannya saling menggenggam di pangkuannya, sementara pandangannya kosong menatap jalan di depan. Sejak mereka meninggalkan rumah, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Di sampingnya, Rayan menyetir dengan tenang seperti biasanya, seolah hari ini hanyalah hari biasa. Padahal bagi Vivian, hari ini terasa seperti langkah menuju sesuatu yang menghancurkan harga dirinya. Mobil hitam itu akhirnya berhenti di depan sebuah rumah besar yang berdiri megah di kawasan elit kota. Gerbangnya tinggi. Halaman rumahnya luas. Rumah itu jauh lebih mewah daripada rumah mereka. Vivian menatap bangunan itu dengan perasaan aneh. “Turun,” kata Rayan singkat. Vivian tidak langsung bergerak. Dadanya tiba-tiba terasa sesak. Ia tahu begitu keluar dari mobil ini… hidupnya mungkin tidak akan pernah sama lagi. “Vivian.” Nada suara Rayan terdengar tidak sabar. Vivian akhirn
Lima Bulan yang Terlalu Singkat Rumah itu terlalu sunyi. Vivian duduk di tepi ranjang sambil memeluk baju bayi kecil berwarna biru yang sudah lama tidak dipakai. Tangannya gemetar, tetapi ia tidak mampu melepaskannya. Lima bulan. Hanya lima bulan Tuhan memberinya waktu untuk menjadi seorang ibu. Air matanya jatuh lagi tanpa suara. Sejak pagi ia sudah menangis berkali-kali sampai matanya terasa perih. Namun setiap kali mencoba berhenti, ingatan tentang anaknya kembali datang seperti gelombang yang menabrak dada. Lemari bayi di sudut kamar masih terbuka. Botol susu, selimut kecil, mainan berbunyi lembut—semuanya masih tersusun rapi seperti menunggu pemiliknya kembali. Namun bayi itu tidak akan pernah kembali. Vivian menunduk ketika rasa nyeri di dadanya kembali muncul. Bukan hanya karena hatinya yang hancur. Dadanya terasa penuh. Air susu masih terus keluar. Tubuhnya belum mengerti bahwa anak yang seharusnya meminumnya sudah tidak ada. Vivian memejamkan mata







