เข้าสู่ระบบ"Hoam... kejadian waktu itu apa, Ga?" Degh! Arga yang mendongak, terkejut bukan main mendengar suara Wulan yang berasal dari belakangnya. Matanya yang terpejam seketika terbuka dan melotot. Bahkan, dadanya kini berdegup dengan kencang. Pikirnya, sejak kapan Wulan bangun? Dan apakah wanita itu mendengar obrolannya dan Mira? Dengan gugup, Arga menoleh dan menatap Wulan yang sedang melangkah pelan ke arahnya. Ia meneguk ludah bersusah payah, sedangkan wajahnya memerah. "Sa-sa-sayang, kamu kok bangun lagi?" tanya Arga tergagap tanpa menjawab pertanyaan sang istri lebih dulu. Wulan membuka mulutnya lebar-lebar, lalu melanjutkan langkah menuju rak dan mengambil sebuah gelas. Selanjutnya, ia mendekati Arga dan meraih teko air di atas meja. "Aku tiba-tiba ngerasa haus, jadi kebangun. Niatnya mau minta ambilin air minum, tapi kamu nggak ada di kamar," kata Wulan. Suaranya terdengar serak, sedangkan matanya terlihat begitu mengantuk. Mendengar jawaban sang istri, Arga angguk-angg
"Astaga, dia malah telepon balik. Aku harus bilang apa ke dia sekarang?"Arga bergumam sembari menatap layar ponselnya yang menyala dan bergetar di pinggiran kasur. Ia bingung harus beralasan apa pada Mira saat ditanya. Di pinggiran kasur, Arga pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.Pemuda itu pun menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan sebelum akhirnya menyambar ponselnya, lalu segera beranjak keluar dari kamar tersebut, meninggalkan sang istri yang sudah tertidur lelap.Arga berjalan keluar kamar sambil sesekali melirik ke arah pintu kamar yang terbuka. Lalu, melangkah menuju dapur dan mendaratkan bokongnya di salah satu kursi.Sebelum mengangkat panggilan dari Mira, Arga kembali menarik napas dalam-dalam dan kali ini mengembuskannya dengan kasar melalui hidung."Huft... nggak ada pilihan lain, aku harus buang harga diriku jauh-jauh demi Mbak Wulan," kata Arga sembari menggeser tombol gagang panggilan berwarna hijau di layar ponselnya.Begitu panggilan tersebut diang
Setelah melakukan oral seks hingga puas, Arga mengajak Wulan untuk beristirahat di malam hari tersebut. Dengan tubuhnya yang telanjang bulat dibalut selimut tebal, Wulan berbaring di atas kasur, kepalanya bersandar di dada bidang Arga. "Mulai besok kalau kamu mau kerja, pergi aja. Aku udah sembuh dan nggak apa-apa ditinggal di rumah sendirian," kata Wulan, berbicara pelan sambil mendongak dan menatap wajah Arga. Nada bicaranya pelan, tetapi terdengar serius. Mendengar perkataan Wulan, Arga yang sebenarnya memang tak memiliki uang lagi itu pun terdiam. Pikirnya, akankah Wulan aman berada di rumah sendirian? Pemuda itu cemas meninggalkan istrinya seorang diri di kontrakan. Ia takut Burhan kembali lagi dan melakukan hal yang lebih buruk. Tetapi, jika ia tidak pergi bekerja, bagaimana caranya menafkahi Wulan? Sedangkan saat ini, uang yang ada di tangannya hanya bersisa dua ratus ribu saja. Meskipun Arga tahu jika Wulan masih menyimpan uang hasilnya menjual cincin kawin dan berjua
"Oke, aku gesek-gesek penisku sekarang. Tapi kalau nanti aku khilaf dan nggak tahan terus nerobos masuk ke lubang apemmu, resiko tanggung sendiri!" Wulan yang benar-benar merasa gatal dan ingin merasakan sensasi bercinta malam itu, langsung menganggukkan kepala dan setuju pada perkataan Arga. Bahkan, bibirnya yang semula merenggut seketika tersenyum kecil. Sedangkan matanya menatap sang suami dengan tatapan bergairah. "Kalau sampai sakit dan pendarahan lagi, aku nggak bakalan peduli!" lanjut Arga dan kembali diangguki kepala oleh Wulan. Kepala Wulan mengangguk pelan. Bibirnya masih saja tersenyum pada sang suami. Selanjutnya, Arga beringsut dari posisinya dan mendorong tubuh sang istri secara perlahan hingga kepalanya menempel pada bantal. Setelah itu, tangan Arga bergerak pada dalaman yang dipakai oleh sang istri. Secara perlahan, ia menarik dalaman tersebut hingga terlepas dari kedua kakinya. Gluk! Jakun Arga naik turun dengan cepat meneguk ludah berulang kali. Sedangkan mat
"Ga, aku pingin apemku digesek-gesek pakai penismu sebentar." Degh! Mendengar permintaan gila Wulan, sepasang mata Arga spontan mendelik lantaran kaget. Bahkan, tubuh yang baru saja bersandar pada tembok lantaran agak lemas usai mencapai puncak kenikmatan, kini kembali menegang. Bukan menegang karena hasratnya kembali memuncak, melainkan karena terkejut. Tak menyangka jika sang istri akan memintanya melakukan hal yang extrem. "Sayang, boleh nggak?" tanya Wulan. Suaranya pelan, wajahnya memelas dan sepasang matanya menatap ingin pada Arga. Gluk! Arga meneguk sisa ludah di tenggorokannya dengan amat bersusah payah. Keningnya berkerut, membuat alisnya bertautan. Sedangkan matanya membalas tatapan sang istri dengan tatapan bingung bercampur takut. "A-a-aku nggak berani, Sayang. Aku takut...." Wulan menggigit ujung bibirnya kuat-kuat. Sementara itu, tangannya meremas payudaranya sendiri dengan remasan kuat lantaran merasa berhasrat. "Cuma digesek di pinggir dan luarnya aja, Sayan
"Sayang, katanya mau jepit punyaku pakai nenmu? Ayo cepat, jepit sekarang aja. Nggak lama lagi, punyaku bakalan muncrat."Wulan menggigit ujung bibirnya dan mengangguk. Lalu mensejajarkan posisi payudaranya pada batang kemaluan Arga yang tegang maksimal dan sudah siap memuncratkan cairan sperma kentalnya.Selanjutnya, Wulan menggenggam batang kemaluan Arga dan menempelkan ujungnya yang basah dan mengilap oleh cairan bening ke tengah-tengah payudaranya."Sayang, rasanya licin banget," kata Wulan saat merasakan sensasi basah dan licin penis sang suami."Bentar lagi bakalan lebih licin dari ini, Sayang," timpal Arga sambil menahan tengkuk Wulan menggunakan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanan menyentuh pinggul ramping sang istri.Wulan kembali menggigit bibir. Jika bukan karena habis keguguran, ia pasti sudah memasukkan batangan tumpul berukuran jumbo itu ke dalam lubang apem tembemnya."Nenmu sekarang beneran makin montok dan besar. Putingnya juga agak sedikit lebih gede dari dulu," k






