LOGIN"Ayolah, Ridhi. Buat riasanmu dengan benar," keluh Widuri."Aku sedang mencoba. Tidak semudah itu, ya." Ridhika menghapus eyeliner-nya untuk yang kesekian kali sambil menggerutu. "Sial.""Makanya, kan sudah kubilang, kamu harus bangun lebih pagi.""Setiap hari, aku bangun jam 5 pagi, Widuri.""Cobalah bangun jam 4!""Lebih baik aku tidak usah pakai riasan saja kalau sampai begitu."Ridhika bisa merasakan Widuri sedang mendelik ke arahnya, tetapi dia hanya tersenyum simpul. Berusaha mempertahankan energi positif, agar tidak habis kesabaran mengulang-ulang riasannya. Masih gelap di luar jendela, namun seperti biasa, Griya Nayika sudah penuh dengan kehidupan. Suara troli sarapan bolak-balik di sepanjang lorong adalah yang paling nyaring. Ridhika bisa mencium aroma bubur sayur hangat bahkan meskipun porsi makanan mereka belum tiba dan itu berhasil membuat suasana hatinya sedikit lebih baik."Troli sarapan!" Seruan terdengar disusul oleh ketukan pada pintu kamar mereka.Dari sudut matanya
Sudah untuk kesekian kalinya Ridhika membolak-balikkan halaman contoh laporan yang diberikan oleh Ibu Binar. Akan tetapi, berapa kali pun dia membacanya, Ridhika masih belum paham mengapa hal-hal seperti kebaikan hati harus dilaporkan. Kemudian, dia ingat bahwa dia berada di Akademi yang mencetak peran, bukan manusia. Tentu mereka memerlukan bukti untuk melihat keberhasilan siswa dan siswinya. Hanya saja ... tetap canggung. "Sulit, ya?" Widuri duduk berselonjor di sampingnya seraya ikut memperhatikan laporan tersebut."Membuat laporannya, tidak. Mencari orang yang bisa diberikan kebaikan, iya.""Hm, begitu. Lagipula, kenapa sih kamu harus absen di tengah jam belajar?""Kalau bisa, aku juga tidak mau begitu. Tapi, Adhyaksa memanggil. Jadi, mau bagaimana lagi?"Ridhika mengetukkan jarinya pada halaman laporan yang mencantumkan keterangan dari orang yang dibantu mengenai kebaikan yang diterimanya. Tiba-tiba tubuhnya merinding. Entahlah! Dia tidak tahu banyak tentang hal ini, namun buka
"Kau takut terinjak tulang?" Tanya Bagastya. Seulas senyum jahil bertengger di wajahnya."Tidak.""Lalu, kenapa kau menempel denganku? Mulai suka?"Ridhika mendelik, lantas mengambil beberapa langkah menjauh dari Bagastya. Akan tetapi naas, baru di langkah kedua dia sudah mendengar suara retakan yang familiar. Alhasil, secara spontan dia melompat mundur, kembali menempel ke sisi pria tersebut.Akibatnya, ketika Bagastya menertawakannya, dia hanya bisa cemberut sambil menahan malu."Bisa cepat sedikit tidak jalannya?" Keluhnya, mencoba mengalihkan agar tidak semakin kehilangan muka. "Aku harus mampir ke kantor Guru.""Sabar. Aku juga baru pertama kali melewati tempat ini tanpa dipandu."Ridhika berjinjit dari balik tubuh Bagastya, menerka-nerka masih seberapa jauh mereka dari ujung lorong. Dalam hati, dia merutuki mengapa ruangan Adhyaksa harus dilindungi dengan tempat seperti ini. Padahal, masih ada cara yang lebih normal seperti menggunakan pagar listrik atau anjing gila, mungkin?"J
"Keluarga Saya ya, Bu?" Ridhika tersenyum canggung, berusaha menutupi kegugupannya. Dia buru-buru memutar otak. Mengingat-ingat setiap klan keluarga protagonis yang biasa menutupi identitas anak-anaknya demi keamanan. Mungkin dia bisa mengaku sebagai anggota keluarga itu? Toh, tidak akan ada yang tahu.Dia mengangguk mantap, menyetujui ide tersebut, lantas kembali menatap Ibu Binar, "Keluarga Saya-""Permisi, Saya diminta menjemput Ridhika Maya."Semua mata yang tadinya sedang menunggu-nunggu jawaban, kini sedang berpindah fokus pada seorang wanita bertubuh jangkung yang sedang berdiri di ambang pintu. Mel."Iya. Ada apa?" Sahut Ibu Binar terlebih dahulu."Adhyaksa ingin bicara dengannya tentang pasangan yang sudah dipilihkan Yukma Nirnayakagnih kemarin."Ibu Binar mengangguk singkat, lantas berbalik ke arah Ridhika yang sedang membeku di kursinya."Ridhika, kamu boleh ikut dengan Mel. Jika sudah selesai, silakan datang ke kantor Guru. Ibu akan berikan tugas tambahan untuk mengganti
"Wah, Ridhi. Hari ini pun kamu masih kecantikan nomor 1 di Akademi," puji Widuri dengan ekspresi bangga. "Kalau begini terus, sepertinya kamu akan punya banyak waktu untuk jalan-jalan di luar."Ridhika menengadah, menatap layar raksasa yang sekali lagi menampilkan wajahnya. Dia baru saja mendapatkan 100 poin lainnya. Widuri benar. Kalau dia bisa mempertahankan ranking kecantikan, maka mungkin dia bisa mengumpulkan cukup poin untuk pulang ke rumah selama beberapa hari. Itu ... kalau dia diizinkan untuk pulang."Apa ada batasan untuk jalan-jalan di luar itu? Atau kita boleh kemana saja?""Setahuku tidak ada batasan tertentu. Kita cuma harus melaporkan kepergian saja." Widuri menoleh ke arah Ridhika. "Kamu mau pulang, ya?" Tanyanya pelan.Ridhika hanya membalas dengan senyuman kecil dan anggukan. "Aku akan coba cari tahu nanti, ya.""Baiklah. Terima kasih, Widuri.""Tidak masalah." Widuri menggandeng lengan Ridhika, kali ini dengan ekspresi jahil. "Omong-omong, bagaimana kabar si Bagast
"Kita tetap bisa akur bahkan dari jauh, Bagastya," ujar Ridhika dengan suara rendah. Masih mencoba menekan rasa kesalnya.Namun, alih-alih menangkap maksudnya bahwa dia tidak nyaman pria itu berdiam terlalu dekat, Bagastya malah tertawa kecil. Seolah menganggap apa yang dikatakannya barusan itu adalah sebuah lelucon."Bagaimana bisa menunjukkan keakuran kalau kita berjauhan, hah?" Bagastya menarik sandaran kursi dari tangan Ridhika. Langsung duduk tanpa peduli apa-apa lagi. "Bodoh," gumamnya sambil masih terkekeh.Ridhika terbelalak. Tidak habis pikir. Bisa-bisanya pria itu mengatainya bodoh! "Ridhika, sudahlah." Amayra melerai dengan suara takut-takut. "Orang-orang sudah mulai memperhatikan. Nanti malah ribut lagi.""Tapi, kan kita mau duduk berdua di sini." Ridhika mengusap wajahnya frustasi."Kalian masih bisa duduk berdua. Si culun duduk di sini." Bagastya menunjuk kursi kosong di sebelahnya. "Dan kau, duduk di sini," sambungnya sambil menepuk paha dengan ekspresi jahil."Diam ka
Sehabis mendengar perkataan Mel tentang perintah Adhyaksa agar tidak boleh ada yang mengetahui tentang identitas awalnya, Ridhika tidak bisa berhenti memikirkan kembali kebutuhannya untuk tetap merasa bebas. Mel yang berjalan di depannya juga tidak bicara apa-apa lagi. Pada titik tertentu, Ridhika
"Hati-hati," ujar pria tersebut. Suaranya rendah dan serak, seperti seseorang yang sudah lama tidak minum. "Maaf." Ridhika mundur beberapa langkah, lalu mengangguk sopan. Intuisinya berkata bahwa dia harus segera menjauh dan memang itulah yang ingin dilakukannya. Namun, keharusan untuk bersikap s
Ridhika diam mematung di depan Akademi Natyadharma yang kubah-kubah runcingnya menjulang seolah siap menembus awan. Napasnya tertahan untuk beberapa saat dan genggamannya pada pegangan koper bertambah erat. Mobil yang mengantarnya sudah lama pergi. Kini, tinggal dia berdiri sendiri di antara perk
"Kamu tidak akan perlu baju-baju ini, kalau sudah tinggal di Akademi, Ridhi." Ridhika tidak menghiraukan perkataan Ibunya tersebut. Alih-alih, tangannya terus bergerak mengemasi baju-bajunya yang didominasi warna hitam dan merah ke dalam sebuah koper berukuran sedang. Sejak pagi, telinganya sudah







