เข้าสู่ระบบ"Kau menarikku keluar sejauh ini hanya untuk menyuruhku mengaku?" Ridhika mendengkus dingin seraya melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku tidak tahu kau berharap aku menjadi orang yang seperti apa, tapi biar kuberitahu satu hal, aku bukan malaikat. Hanya karena aku siswi protagonis, bukan berarti aku akan selalu jadi baik hati dan penuh dengan niat yang tulus.""Ridhika, bukan begitu maksudku." Helaan napas berat lolos dari bibir Bagastya. Baru saja disadarinya bahwa tindakannya memang bisa terlihat seolah sedang menghakimi gadis itu. "Baiklah, aku salah. Maafkan aku. Aku hanya kaget. Ridhika yang kukenal itu cerdas, tapi dia tidak akan memanfaatkan itu untuk menyakiti orang lain.""Ridhika yang kau kenal? Ridhika yang mana? Menjadi pasangan selama beberapa bulan tidak lantas membuatmu mengenalku, Bagastya. Lagipula, yang kusakiti itu adalah diriku sendiri." Ridhika mengangkat pergelangan tangannya yang terbalut perban. "Apa yang ditanggung oleh Klarisa, hanyalah konsekuensi dari
"Bukankah sudah pernah kubilang kalau aku ingin kau jauh-jauh dari pasanganku?" Ujar Bagastya dengan ekspresi datar. "Kau masih ingat apa peringatanku kalau sampai melanggarnya, kan?"Ridhika membiarkan Bagastya membantunya agar bisa berdiri lebih stabil. Pria itu kemudian memegang tangannya yang terluka selama beberapa saat dengan cukup serius, sebelum akhirnya menarik Ridhika agar berdiri di belakang tubuhnya."Bapak dan Ibu Pengawas, Saya memiliki beberapa laporan tentang pelanggaran yang dilakukan oleh Klarisa," ungkap Bagastya tegas. "Salah satu yang paling fatal adalah dia memalsukan kepemilikan semua tugas Kelas Antagonis yang diserahkannya. Dia merundung pemilik aslinya dan mengambil tugas-tugas tersebut secara paksa.""Bagastya Dewa! Bisa-bisanya kau!" Dengan wajah pucat Klarisa mengacungkan jarinya ke arah Bagastya.Dari sudut pandang Ridhika, sepertinya gadis itu tidak habis pikir mengapa Bagastya betul tega membocorkan tindakannya. Sesuatu yang membuat Ridhika bingung seka
Seperti suara ngengat yang dengan panik mencoba untuk keluar dari perangkap serangga. Itulah apa yang ada di dalam pikiran Ridhika pada saat satu-persatu siswa siswi protagonis dan antagonis mulai masuk ke dalam ruang Kelas Gabungan. Mereka tertawa, bicara dan berseru dengan nada yang melengking nyaring, membuat kepala Ridhika pening seketika."Topik kita kali ini adalah Manipulator Ulung," buka sang Guru Pembina, tanpa menunggu para siswa dan siswi yang belum mendapatkan tempat duduk. "Sengaja Saya pilih demikian, sebab selama beraba-abad, dunia cerita selalu hanya memberi pengakuan kepada antagonis sebagai peran dengan kualitas menjadi seorang manipulator. Saya ingin lihat, barangkali pada pertemuan hari ini, ada yang bisa membuktikan bahwa pandangan tersebut keliru."Bisik-bisik siswa dan siswi di sekitar Ridhika kian bertambah. Pada awalnya, meski bisa mendengar sebagian besar dari pembicaraan yang dibahas, dia masih tidak tertarik untuk memperhatikan. Sampai kemudian kursinya ter
"Menurutku, kamu pasti cocok memerankan tokoh protagonis wanita berkepribadian kuat," ungkap Amayra selagi sibuk mengetik analisanya menggunakan laptop. "Kudengar, belakangan ini dunia cerita dengan protagonis seperti itu sedang sangat populer."Ridhika hanya mengangguk tanpa kata. Dia juga mengetahui semua ini, tentang cerita seperti apa yang sedang tren dan banyak disukai. Saat ini, sedang menjamur sekali drama yang menceritakan tentang seorang wanita yang balas dendam pada pasangannya karena pihak lain itu berselingkuh atau memperlakukannya dengan sangat buruk. Penonton benar-benar menyukainya. Mereka bahkan ingin si protagonis wanita membalas dengan lebih kejam. Fakta yang cukup mengejutkan bagi Ridhika. Sebab, dia tidak menyangka bahwa akan ada saatnya stereotipe protagonis wanita murni dianggap membosankan, bahkan membuat frustasi. Padahal, tipe protagonis seperti ini adalah yang paling pertama tercipta dan sudah bertahan selama berabad-abad."Semua hal ada masanya, ya?" Pikirn
"Bagi protagonis wanita berkepribadian kuat, selama mereka bukan pihak yang memulai tindakan salah, maka perilakunya masih bisa ditelorensi. Membalas dendam, menginjak balik orang lain, semua ini masih diperbolehkan, asalkan sepadan dengan kejahatan yang dialaminya dan tidak lebih," jelas Ibu Binar sambil berkeliling kelas dengan buku teks pelajaran di tangannya. "Sedangkan, bagi protagonis wanita dengan kepribadian lembut, umumnya tindak kebaikan hatinya disarankan tidak berbatas. Kecuali, apabila sifat lembutnya itu hanyalah fasad yang digunakan untuk melindungi diri sendiri, maka batas kebaikannya disamakan dengan protagonis wanita kuat. Yakni, selama tidak melebihi tindak kejahatan yang diterimanya."Ridhika menyimak dengan sangat serius. Matanya hanya tertuju pada Ibu Binar, bahkan tubuhnya nyaris tidak bergerak. Satu-satunya hal yang kadang kala mampu merusak fokusnya hanyalah suara guntur yang saling bersahutan di luar.Pada saat, dia menoleh ke jendela yang sebagian besar men
Pagi itu, ketika Ridhika berjalan di lorong menuju Kelas Kebaikan Hati, semua anehnya tidak seburuk yang dia bayangkan. Padahal, dia sudah bersengaja tidak berjalan bersama Amayra, karena takut gadis itu dikucilkan. Akan tetapi, ternyata para siswa dan siswi tampak tidak begitu peduli. Mereka hanya melewatinya seolah dia tidak ada.Memang masih ada beberapa yang melirik dengan tatapan sinis, tetapi Ridhika tentu tidak mengindahkannya. Selama mereka tidak mengganggunya secara langsung, dia juga bisa berpura-pura seolah mereka adalah makhluk-makhluk tembus pandang.Setibanya di kelas, kursi yang biasa digunakannya tentu sudah diisi siswi lain, yang begitu melihat kedatangannya maka segera saja mulai berbisik-bisik dengan satu sama lain. Hanya tersisa dua kursi kosong, satu di samping Amayra yang tengah menatapnya seraya tersenyum lebar, sementara satunya lagi berada di pojok paling belakang ruangan.Ridhika tanpa diragukan lagi memilik kursi yang berada di belakang itu. Dia menyempatkan
"Ridhi! Kamu dapat tambahan 100 poin!"Ridhika merasakan tangan Widuri mengguncang-guncang tubuhnya dengan girang. Gadis itu tampaknya sangat gembira melihat wajah Ridhika yang terpampang di layar besar. Sementara si pemilik wajah itu sendiri malah mematung di tempat.Karena seruan Widuri yang cuku
Ridhika diam mematung di depan Akademi Natyadharma yang kubah-kubah runcingnya menjulang seolah siap menembus awan. Napasnya tertahan untuk beberapa saat dan genggamannya pada pegangan koper bertambah erat. Mobil yang mengantarnya sudah lama pergi. Kini, tinggal dia berdiri sendiri di antara perk
"Kamu tidak akan perlu baju-baju ini, kalau sudah tinggal di Akademi, Ridhi." Ridhika tidak menghiraukan perkataan Ibunya tersebut. Alih-alih, tangannya terus bergerak mengemasi baju-bajunya yang didominasi warna hitam dan merah ke dalam sebuah koper berukuran sedang. Sejak pagi, telinganya sudah
"Heh! Minggir!" Bisik seorang pria pada sekelompok wanita yang sedang asyik berbincang-bincang di tengah pasar. "Ih! Kenapa, sih?!" "Iya, ganggu saja! Jalannya kan luas." "Ck! Minggir saja," nada si pria meninggi, dari gerak-geriknya tampak kepanikan yang susah payah disembunyikan. "Keturunan







