LOGIN“Semua orang berkata kamu ini mandul. Ayah dan Ibuku sudah menunggu selama 5 tahun! 5 tahun itu waktu yang lama untuk memiliki seorang anak!” Teriak Melvin penuh emosi. “Aku sudah cukup sabar dengan kamu Zee!” Melvin mengelus dadanya untuk menenangkan dirinya sendiri.“Tapi aku tidak mandul, kak. Dokter sudah menyatakan itu.”Pernikahan tanpa ada anak membuat adanya kekurangan dari sebuah keluarga. Getir dan pahit karena dikatakan mandul oleh suami sendiri, dan sang suami yang lebih memilih menikah siri dengan wanita lain yang lebih muda. Bagaimana perjalanan Zeline dalam pernikahannya? Apakah ia kuat menghadapi perselingkuhan suaminya ataukah ia memilih untuk bercerai?
View MoreDzurriya terbangun dengan ujung pistol menempel ke arah perban di atas dahinya. Matanya langsung membelalak kaget.
“S-siapa kamu—” Suara Dzurriya tertahan kala melihat seorang lelaki asing dengan setelan jas hitam lengkap yang sama sekali belum pernah ia temui. Raut wajahnya terlihat sangat tenang, tapi dingin juga kejam. “Apakah tidurmu nyenyak?” suara rendah lelaki itu membuat tubuhnya seketika berkeringat dan kaku. Dzurriya tak berani bergerak. Ia juga tidak bisa merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya tadi. Bahkan napasnya seakan tertahan di antara kedua bibirnya yang bergetar lirih. Mata lelaki itu menatap tajam ke arah Dzurriya di balik kacamata. Mulutnya tak bergeming. Telunjuk tangan kanannya yang terlihat sigap sedang mencengkram pelatuk, siap menembaknya kapan saja. Tapi bukan itu yang paling membuat jantungnya berdegup kencang ketakutan. Saat ini, ia dipenuhi banyak pertanyaan yang membuatnya terasa bising dalam keheningan. ‘Kenapa aku di sini? Siapa lelaki ini? Apa yang hendak ia lakukan padaku?’ Ingin sekali ia bertanya kenapa diperlakukan seperti itu. Namun, ia takut satu gerakan di bibirnya akan membuat lelaki itu menembak kepalanya langsung. Lelaki itu mendongakkan dagu Dzurriya ke atas dengan ujung pistolnya. Dengan sinis, dia berbisik, “Kalau bukan karena Alexa, sudah lama kamu mati di tanganku, Jadi tunggulah Alexa! Dia yang paling berhak menghukummu. Selama itu, aku tak akan membiarkanmu mati, apalagi kabur.” Dzurriya hanya menelan air liurnya. Bola matanya ikut bergetar. Suaranya yang berat dan dingin itu membuat keringat dingin mengucur di sekujur tubuh Dzurriya. AC yang menempel di dinding seolah hanya pajangan saja. Dzurriya menggeleng pelan. “Apa maksudmu?” “Jangan berlagak bodoh!” bentak lelaki itu, bersiap untuk menarik pelatuknya. Matanya melotot bengis ke arah Dzurriya yang terlihat panik dan tegang. Dzurriya mengumpulkan kekuatannya, dan membalas lelaki itu. “S-siapa kau? K-kenapa kau mengancamku?! Apa salahku?!” “He!” hardik balik lelaki itu. “Jangan pura-pura bodoh! Aku gak bisa dibohongi!” “Aku tidak berbohong, aku benar-benar tak ingat apapun,” ucap Dzurriya seketika menangis. Tanpa diduga, lelaki itu mendekat dan mencengkeram dagunya, “Kamu kira dengan kamu menangis, aku akan melunak? Jangan harap! Sekali pembunuh tetap pembunuh! Aku akan terus mengawasimu, jadi berhati-hatilah!” Brak! Seketika kedua kelopak mata Dzurriya langsung terpejam. Tangannya yang sedari tadi kaku, langsung mencengkeram sisi sprei, tempat ia terbaring lemas. Itu bukan suara tembakan, melainkan suara pintu yang dibuka dengan kasar. Seorang lelaki berkemeja hitam pun masuk, dan langsung mendekati lelaki yang masih menodongkan pistol ke arahnya. “Ibu Alexa memanggil Anda, Pak Ehsan.” Dalam keheningan kamar, Dzurriya masih bisa mendengar apa yang ia bisikkan. Ehsan, lelaki berkacamata itu terdiam sejenak, mulutnya tersungging senyuman tipis. Ia menyerahkan pistol yang sedari tadi dipegangnya kepada lelaki itu. “Bawa dia,” ucapnya sambil bergegas keluar dari ruangan tersebut. Lelaki yang seperti bawahannya itu mengangguk patuh, lalu dengan segera menarik paksa satu tangan Dzurriya. Ia juga tampaknya tidak peduli, apakah tangan Dzurriya masih tersambung selang infus atau tidak. “A-apa-apaan ini?!” pekik Dzurriya, kaget bercampur takut. Dzurriya terus memberontak, sampai lelaki itu tampaknya tidak punya pilihan lain selain mengangkat tubuh Dzurriya dan memanggulnya di pundak sebelah kanan. Entah akan dibawa ke mana Dzurriya sekarang. Namun, karena tubuhnya masih lemah dan juga lelaki itu sangat kuat, lelaki itu sama sekali tidak terpengaruh. “Turunkan aku!” pekik Dzurriya. Brak! “Ah!” Dzurriya memekik ketika lelaki itu menurunkannya dengan kasar di sebuah kamar rawat lainnya. Kamar ini jauh lebih mewah dan terang. Namun entah kenapa, Dzurriya malah semakin terintimidasi. Mungkin karena ia melihat Ehsan yang berdiri di sebelah wanita yang memakai kursi roda. Kepala dan tangan wanita itu diperban juga, walaupun tidak separah Dzurriya. Keduanya menatap Dzurriya penuh kebencian. “S-siapa kalian….” Dzurriya terbata sambil menatap Ehsan dan wanita itu bergantian. “Ha!” Sengir wanita itu. “Ternyata benar selain bodoh, kau juga licik. Berani sekali kau membodohiku.” “Sungguh, aku tak mengerti maksudmu…,” ucap Dzurriya berusaha meyakinkannya. “Cukup! Lihat saja aku akan membuatmu merasakan penderitaan yang aku rasakan sampai kau tidak akan mau hidup lagi di dunia ini!” ucap wanita itu dengan napas tersengal-sengal karena begitu marah. “Memangnya apa yang kulakukan? Apa salahku?” tanya Dzurriya dengan suara paraunya yang ragu, berusaha memberanikan diri. “Kau bertanya… apa kesalahanmu?” Wanita itu tertawa pahit sambil mendekati Dzurriya, lalu berteriak keras. “Kau sudah membunuh bayiku dan membuatku tak bisa punya anak lagi!” Wanita itu hampir saja menamparnya, kalau Ehsan tidak tiba-tiba memeluknya. “Sabar, Alexa…. Jangan mengotori tanganmu dengan menamparnya.” Dzurriya masih bingung dengan apa yang barusan di dengarnya. “K-kau pasti berbohong… aku bukan pembunuh…. Aku bukan pembunuh!” pekiknya histeris. “Ya, kau pembunuh! Kau sudah membunuh bayiku. Kalau kau tidak muncul di jalan itu, aku tidak akan mengalami kecelakaan!” teriak histeris wanita bernama Alexa itu berang. Mata Dzurriya membulat. Kata-kata wanita itu memunculkan sekelebat bayangan yang membuat kepalanya berdenyut sangat nyeri. Dalam bayangan itu terlihat sebuah cahaya terang dari sebuah mobil yang melaju cepat ke arahnya dan… “Argh!” Dzurriya berteriak sambil memegangi kepalanya yang nyeri. Namun, bukan kata-kata menenangkan diri atau obat, ia justru merasakan rahangnya dicengkram kuat oleh tangan besar Eshan, “Hentikan akting burukmu ini!” “Belum puas kau membunuh anak kami dan membuatnya kehilangan harapan untuk menjadi seorang ibu, Hah! Dasar wanita tak tahu diri!” lanjutnya memaki sambil menghempas kepala Dzurriya. Dzurriya mencoba bangun, kakinya yang tertatih-tatih berlutut di hadapan Alexa dengan tulus. “Aku tak tahu apa yang kulakukan, tapi sungguh aku minta maaf… Maafkan aku… maafkan aku!” “Kamu minta maaf, tapi kamu tidak mengakui kesalahanmu?” Sekali lagi, Eshan mencengkram dagu Dzurriya. “Sungguh! Aku tak ingat apa-apa?” Dengan sisa tenaganya, Dzurriya berteriak. “Gak waras!” “Sayang!” Sergah Alexa, seketika membuat cengkeraman lelaki itu melemah. “Aku yang akan menghukumnya!” Dzurriya menoleh, dan mendapati Alexa sedang berusaha menghapus air matanya. Mata Alexa yang memerah menatap lurus Dzurriya. “Aku yang akan membuatnya membayar setiap detik kesakitan yang telah ia timbulkan pada kita!” Dzurriya menelan air liurnya, seraya air matanya terus mengalir. Ia tidak bisa membayangkan hukuman kejam apa yang harus ia terima untuk membayar itu. “Menikahlah dengannya.”Setiap pagi wajah Theo datang dengan cerah. Wajahnya berbahagia. Kali ini ponsel di tangannya masih aktif. Kakinya menapaki lantai dari lift menuju ruangannya melewati receptionis. "Sayang, aku sudah sampai Kantor. Aku akan pulang jam 5 sore. Kita makan malam ya? Aku tak sabar menunggu malam lagi" Theo terkekeh. Semenjak bersama Zee, jiwa romantisnya seakan tidak ada habisnya saja. Setiap hari, Theo selalu ingin cepat pulang dan bertemu dengan Zee.Theo mendengar jawaban lawan bicara di ponselnya, ia yakni Zee sedang mengecup mesra di ponselnya walau hanya kecupan di udara sambil mengatakan "Zee, aku sangat mencintaimu." Zee juga bahagia, "Terima kasih Kak Theo untuk semua hal yang indah sejak kamu menjadi suamiku. Aku juga mencintaimu.""Bye, Sayangku. I love you."Theo tak menyadari Vivi berada di belakangnya juga keluar dari lift. Hati Vivi tersayat. Vivi tahu bahwa Theo akan selalu menelepon istrinya dengan ucapan yang sangat manja dan penuh cinta sementara dulu Theo bukanlah o
Vivi merenung masih memikirkan Theo. Mamanya Melani masuk ke kamarnya. "Waktunya bagimu meninggalkan perusahaan Theo. Dia tidak mencintaimu. Kita punya perusahaan, Sayang. Kau harus belajar memimpin perusahaan ayahmu."Vivi menggeleng. "Aku lebih suka masak, Ma. Aku tidak berminat pada usaha Papa.""Hfff..." Melani menarik nafas berat. Vivi anaknya memang keras kepala. "Maksudmu? tetap menjadi sekretaris Theo, seorang bawahan. Diperintah sana dan sini?" Melani kecewa pada putrinya. "Mama mendampingi Papamu agar perusahaan kita maju. Kami berharap Kamu juga berjuang bersama kami agar kita tetap sejahtera.""Mama masih mengerti dengan bisnis Choco chipmu yang kini punya banyak cabang di mall-mall. Iseng-iseng untuk belajar memulai bisnis besar. Mama masih mengerti kamu melamar pekerjaan sekretaris padahal lulisan Hardvard. Untuk mengejar Theo orang yang sudah lama kamu sukai."Vivi acuh mendenagar omelan Mamanya. Melani menarik nafasnya kesal. "Tetapi tolong sudahi main-mainnya kamu
Virny dan Alex menyambut haru kedatangan Zee. Virny menangis memeluk putrinya. Jangan pergi lagi sayang, Mama rindu" "Zee juga rindu, Ma. Zee baik-baik saja, Ma. Jangan menangis." Zee memang merindukan Mamanya. Alex juga memeluk putrinya. Zidan menaruh semua tas di kamar Zee. Semua berbahagia untuk kedatangan Zee.Zee melihat pada Theo. Virny tersenyum pada Theo, "Bagaimana kamu bisa menemukan tempat persembunyian Zee, Theo?""Selama ini selalu bilang baik-baik saja. Tidak mau memberi alamatnya dengan alasan ingin menenangkan diri?" Virny penasaran."Setahun lebih mencari Zee, Tante. Terombang ambing tak menentu, Theo tidak ingin lagi kehilangan dia."Semua tersenyum, memandang dua sejoli ini. "Sebenarnya Zee hanya memintamu menyelesaikan masalahmu dengan Vivian. Itu langkah yang tepat, lihatlah kasusmu usai kita bisa berkumpul lagi." ujar Alex mengerti jalan pikiran Zee."Om, Tante perkenankan Theo tidak membuang waktu terlalu lama. Theo meminta restu kalian berdua. Theo ingin mel
Siang ini sepertinya semua bunga dibumi ini tumbuh hanya untuk Theo, dipetik dan dicurahkan begitu saja untuk hatinya. Kehadiran Zee siang ini memasak makananya tak diperkenankan olehnya. "Aku akan memasak untuk Kak Theo" ujar Zee bersiap ke dapur. Dipikirannya di kulkas ada banyak bahan untuk dimasak."Jangan Zee kita pesan makanan on line saja, aku tak mau kamu meninggalkanku bahkan hanya ke dapur. Aku takut Zee"Zee tertawa tak percaya, Theo seperti anak kecil yang takut ibunya pergi, Theo tak perduli. Ia tetap mengenggam tangan Zee. Bahkan Zee kesulitan untuk menggapai ponselnya. Zee membalas genggaman Theo. Memandang Theo. "Kak aku berjanji padamu, bersedia menjadi istrimu. Besok kita kerumah orang tuaku. Maafkan aku pernah meninggalkanmu. Tolong percayai aku." kedua netra mereka beradu. Theo melihat kesungguhan dan tatapan kerinduan pada netra Zee yang indah itu. Theo tersenyum. "Maafkan aku, Zee. Kamu benar, aku percaya padamu, Zee. Kita pesan on line dan makan berdua ya, Z
Theo hari ini merekah. Hatinya bak dilingkari pelangi. Ia tak dapat menangisi Zee lagi, Robin telah menemukan keberadaan Zee."Bos, Aku berhasil menemukan Zee." Robin sumringah menyampaikan laporannya. "HAH? Jangan bohongi aku. Aku butuh buktinya." tantang Theo tak percaya."Buka file yang kukirim. In
"Melvin bangu...un, buka matamu. Bangun nak!! Lihat Mama!" Teriak Nina mengguncang bahu anaknya. Dokter Adrian menggeleng lemah. "Ikhlaskan Nyonya," kata Dokter itu iba melihat histetis Nina. Robert mencoba meraih tangan istrinya.Nina menggeleng. "Pa, dokter ini bohong. Kita jangan mau percaya." Tan
Sudah 3 kali sidang dilakukan untuk pembacaan tuntutan dan pengumpulan bukti. Lelah terus-menerus hadir dan ingin segera mendengar putusan hakim. Itulah yang dirasakan semua tersangka, yakni Melvin, Vivian, Devan, Entis pada kasus Video porno ini. Vivian sudah dua kali ijin sakit untuk sekedar meng
Penangkapan Melvin di sebuah desa terpencil menjadi trending topic informasi di dunia maya, dan televisi. Kepolisian seakan menunjukkan bahwa mereka masih punya kinerja terbaik. Para warganet dan rakyat penyimak berita cukup puas dengan hasil kinerja kepolisian mereka menyanjung kepolisian yang sang












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore